— CIANJUR, Kompas.com – Di bawah sorot lampu panggung yang redup, Lena Marliana Budi K, yang akrab disapa Una (38), melangkah perlahan dari kegelapan. Kehadirannya yang tenang namun penuh daya tarik tak pelak menarik perhatian seluruh penonton yang hadir dalam sebuah acara pelantikan. Malam itu, panggung formal tersebut bertransformasi menjadi ruang khidmat, nyaris mistis, berkat penampilan monolognya memerankan sosok “Bunga” dalam karya Tirto Adhi Soerjo.

Una tidak hanya sekadar menjadi bagian dari sebuah seremoni. Melalui penampilannya, ia membuka lapisan lain dari sebuah acara yang formal, menunjukkan bahwa di balik struktur, organisasi, dan pidato, selalu ada ruang sunyi yang hanya bisa diisi oleh keberanian seseorang untuk berdiri tegak seorang diri di bawah cahaya.

Panggung Teater, Titik Balik Kehidupan

Di balik kepiawaiannya di panggung teater, terbentang kisah panjang perjuangan Una untuk mewujudkan kecintaannya pada seni peran yang telah bersemi sejak kecil. Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2011 ini pernah merasakan pahitnya kegagalan saat pertama kali mengikuti tes masuk jurusan.

Namun, kegagalan tersebut tidak memadamkan semangatnya. Peran mentor menjadi krusial di titik terendahnya. Bersama Epi Kusnandar, seorang tokoh dalam sinetron “Preman Pensiun”, Una menemukan kembali keyakinannya. Bimbingan tersebut mendorongnya untuk mencoba lagi hingga akhirnya ia berhasil diterima sebagai mahasiswa teater.

“Pesan yang selalu saya ingat dari almarhum Kang Epi, kalau mau bermain teater, lakukan dengan hati. Karena apa yang dimainkan dengan hati akan sampai ke penonton, mainnya harus ikhlas, nikmati saja,” ujar Una kepada Kompas.com, Sabtu (25/4/2026).

Selama sebelas tahun di Jakarta, Una mengasah kemampuan akting dan menempa mentalnya. Perjalanan seninya dimulai dari panggung-panggung kecil, mengumpulkan keberanian sedikit demi sedikit. Ia juga tak segan berkeliling kampung dengan bayaran seadanya, menumpang metromini sambil membawa properti, hingga akhirnya menjejakkan kaki di panggung gedung teater.

“Proses itu saya lakukan sejak masih kuliah hingga setelah lulus, sebelum memutuskan pulang ke Cianjur karena permintaan ibu, sambil merintis usaha, buka pet shop,” kenangnya.

Sekembalinya ke Cianjur, Una sempat mengalami kevakuman dalam berkesenian. Namun, kecintaannya pada seni pertunjukan tak bisa dibendung. Pada tahun 2022, ia kembali dipercaya untuk memerankan Siti Jenab, tokoh perempuan pejuang pendidikan Cianjur, dalam pementasan “Monolog Siti Jenab”.

Bagi Una, teater bukan sekadar seni. Ia menyebutnya sebagai asupan jiwa, ruang tumbuh, dan tempat bernapas ketika dunia terasa begitu sesak. Dalam pertunjukan monolog terbarunya sebagai “Bunga”, seorang perempuan yang terjebak dalam narasi informasi yang timpang, Una tidak memainkan ledakan emosi. Ia justru memilih jeda yang panjang, sorot mata yang tajam, dan tangan yang bergetar pelan, seolah tubuhnya berbicara lebih lantang dari kata-kata yang terucap.

“Monolog itu seperti bercermin. Tapi bukan hanya melihat diri sendiri, saya juga melihat perempuan-perempuan lain yang tidak punya panggung untuk bicara,” ucapnya lirih.

Panggung Kehidupan Seorang Ibu Tunggal

Di sela kesibukannya berkesenian, Una juga menjalani peran sebagai ibu tunggal bagi putri semata wayangnya sejak pernikahannya berakhir pada 2019. Ia menerima kenyataan itu dengan lapang dada, mengikhlaskannya sebagai bagian dari takdir yang harus dijalani.

“Menyerah berarti saya memperlihatkan sisi lemah di depan anak. Saya ingin dia tumbuh kuat, tangguh dan tidak cengeng,” tegasnya.

Kendati demikian, Una mengakui hidupnya tak lepas dari fase-fase sunyi. Mulai dari kehilangan orang tua, menjawab pertanyaan anaknya tentang sosok ayah, hingga menghadapi stigma sebagai ibu tunggal di lingkungan yang masih patriarkis.

“Jika sedang dalam kondisi seperti itu, saya lari ke teater. Di sana saya bisa menjadi siapa pun yang saya inginkan,” ujarnya.

Bagi Una, menjadi ibu tunggal bukanlah pilihan, melainkan takdir yang harus dihadapi. Di tengah pandangan sosial yang kerap menghakimi, ia berupaya memantaskan diri sebagai perempuan yang berdaulat atas dirinya sendiri. Di balik keteguhan itu, satu hal yang membuatnya terus bertahan adalah putri tunggalnya yang kini telah beranjak remaja.

“Saat ini, fokus saya hanya untuk anak, ingin memberikan yang terbaik untuknya. Saya terinspirasi oleh sosok Siti Jenab, bahwa pendidikan adalah yang utama bagi anak,” ungkapnya.

Una tidak memiliki harapan agar putrinya mengikuti jejaknya di panggung seni, meskipun darah seni rupanya mengalir dalam diri sang anak. Putrinya lebih menikmati waktunya di sanggar, berlatih pupuh, menari jaipoing, dan belajar memainkan kecapi. “Kemauan anaknya sendiri. Sejak kecil memang sering saya ajak ke latihan teater, jadi mungkin sudah terbiasa dengan suasana kesenian,” ujar Una.

Peran Ganda di Dua Panggung

Una tidak pernah membayangkan hidupnya akan terbagi dalam dua panggung besar: rumah dan teater. Di rumah, ia adalah ibu tunggal yang harus memastikan makanan anaknya tersaji tepat waktu, mengantar dan menjemput ke sekolah, serta menjaga usahanya tetap berjalan sebagai tumpuan hidup. Sementara di panggung teater, ia menjelma menjadi sosok yang berbeda, suaranya dilatih agar lantang, dan matanya harus mampu menyimpan amarah, kehilangan, serta harapan dalam satu tarikan napas.

Bagi Una, kedua ruang tersebut seperti dua dunia yang sama-sama menuntutnya hadir secara utuh dan paripurna, tanpa celah untuk benar-benar berhenti. “Kadang saya merasa hidup iseperti monolog yang tidak pernah selesai. Bedanya, di panggung saya bisa memilih kapan berhenti, sedangkan di kehidupan nyata, tidak,” ujarnya.

Refleksi Seorang Kartini di Era Modern

Di sela aktivitasnya yang padat, mulai dari membuka toko di pagi hari, mengantar dan menjemput anak sekolah, hingga berlatih peran di sanggar hingga larut malam, Una kerap berdialog dengan dirinya sendiri. Ia merenungi tentang keberanian, kesendirian, rasa lelah yang tak selalu bisa diceritakan, dan mimpi yang kadang tertunda namun harus terus dijaga agar tidak padam.

Dalam ritme keseharian yang penuh dialog batin itu, momen Hari Kartini menjadi ruang yang lebih luas bagi Una untuk berefleksi tentang perempuan, kesetaraan, dan cara bertahan dalam kesunyian yang panjang. Menurutnya, Kartini tidak selalu hadir sebagai sosok besar dalam buku-buku sejarah atau sekadar peringatan seremonial. Lebih dari itu, Kartini menjelma menjadi sesuatu yang lebih personal, sebuah refleksi tentang ruang-ruang yang masih harus diperjuangkan, bahkan di tengah era yang disebut modern.

Sebab, bagi perempuan yang menjalani hidup seorang diri seperti dirinya, “Habis Gelap Terbitlah Terang” tidak hadir begitu saja. Ia harus menyalakan sendiri terang itu, dari luka-luka yang ia rawat dalam diam.

Una adalah perempuan yang hidup mandiri, berdikari, tangguh, dan memegang teguh prinsip dalam hidupnya. Seperti Kartini yang terus hidup dalam banyak tafsir, Una menjalani bentuk emansipasinya sendiri, bukan melalui slogan besar, melainkan dengan napas panjang yang ia bagi antara panggung, rumah, dan kehidupan yang terus berjalan.