Regional

Dari Lahan Sekolah ke Jepang, Edamame Siswa SMK Bawen Tembus Pasar Ekspor

Advertisement

UNGARAN, KOMPAS.com – Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Bawen, Semarang, Jawa Tengah, mencatatkan prestasi gemilang dengan berhasil menembus pasar ekspor produk pertanian mereka ke Jepang. Edamame hasil panen perdana siswa SMK tersebut dijadwalkan akan dikirim ke Negeri Sakura pada bulan April ini.

Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Bawen, Farida Fahmalatif, menjelaskan bahwa edamame yang dipanen siswa memiliki keunggulan rasa yang lebih manis dibandingkan dengan produk dari daerah lain, sehingga sangat diminati.

“Edamame yang dipanen siswa dinilai rasanya lebih manis, sehingga digemari,” ujar Farida, Kamis (23/4/2026).

Menurut Farida, edamame tersebut ditanam di lahan sekolah seluas tiga hektare. Seluruh keuntungan dari hasil ekspor ini akan dikembalikan kepada siswa dalam bentuk pembelajaran dan pengembangan pengolahan edamame.

“Edamame ini termasuk komoditas baru yang ditanam, baru dua kali panen. Panen pertama masih uji coba, dan yang kedua ini panen massal langsung ekspor ke Jepang, melalui perusahaan dari Temanggung,” terang Farida.

Optimistis Membangun Sekolah Berprestasi dan Mendunia

Selain edamame, SMK Negeri 1 Bawen juga membudidayakan berbagai komoditas lain seperti selada, kacang merah, dan tomat hitam yang diklaim memiliki khasiat untuk pencegahan kanker.

“Kita juga mempunyai produk unggulan berupa ayam pedaging. Ayam ini masa panen 38 hari dengan berat yang terkecil 2,5 kilogram,” tambah Farida.

Advertisement

Farida mengungkapkan bahwa total lahan pertanian dan peternakan di SMK Negeri 1 Bawen mencapai 9,8 hektare, yang dinilai masih sangat memungkinkan untuk terus dikembangkan demi menunjang pembelajaran siswa.

“Dengan segala potensi yang dimiliki, kami optimistis dapat membangun sekolah yang berprestasi dan mendunia,” katanya.

Menanggapi pencapaian ini, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mendorong penggunaan rekayasa teknologi untuk lebih meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan peternakan siswa SMK Negeri 1 Bawen.

“Ini kan termasuk ayam ajaib karena ada intervensi rekayasa genetik. Ini beda dengan ayam kampung yang sudah setahun tapi belum tentu beratnya satu kilo,” ungkap Zulkifli.

Ia menambahkan, “Memang harus ada intervensi teknologi agar bisa tercipta produktivitas yang tinggi, sehingga harga atau cost diturunkan.”

Advertisement