Akses.co.id — Di tengah kepadatan permukiman Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Dewi Apriyani tak terhalang lahan sempit untuk membangun sebuah ekosistem pangan mandiri. Di halaman rumahnya yang berukuran sekitar 8×11 meter, ia menerapkan konsep urban farming terpadu, memadukan tanaman sayuran, rempah, buah-buahan, hingga ternak ayam kampung petelur.
“Ini semua ditanam di sini, lahannya terbatas, jadi harus disiasati,” ujar Dewi sembari menyiram tanaman di antara pot dan rak vertikal yang memenuhi halaman rumahnya.
Ia memanfaatkan setiap jengkal ruang yang ada, mulai dari tanah, pot gantung, hingga rak bertingkat untuk memaksimalkan produktivitas. Beragam sayuran seperti bayam dan pakcoy tumbuh berdampingan dengan tanaman rempah seperti jahe dan kunyit. Pohon buah seperti pisang, alpukat, dan jeruk turut menghiasi halaman.
Tak hanya tanaman, Dewi juga beternak ayam kampung petelur. Kandang ayam ditempatkan di sisi halaman dengan sistem yang diatur agar minim bau dan ramah lingkungan. Untuk mengatasi keterbatasan lahan, ia mengandalkan metode vertikal dan pupuk organik yang diolah sendiri dari limbah dapur.
“Saya olah sendiri dari limbah dapur, jadi enggak beli pupuk dari luar,” jelasnya.
Konsep yang diusung Dewi mendekati prinsip permakultur, di mana tanaman, ternak, dan lingkungan saling terhubung dalam satu siklus. “Di sini saling terhubung, tanaman, ayam, bahkan ikan. Jadi satu ekosistem,” katanya. Menurutnya, cara ini membuktikan bahwa lahan sempit di tengah permukiman padat bukanlah hambatan.
Keputusan Besar Tinggalkan Industri IT
Kondisi yang terlihat saat ini merupakan hasil dari keputusan besar Dewi untuk meninggalkan kariernya di bidang teknologi informasi (IT) dan beralih membangun sistem urban farming di rumah. Pilihan ini menjadi cerminan cara lain perempuan memaknai kemandirian, terutama di momen Hari Kartini.
Dewi mengungkapkan, keputusan berhenti bekerja bukanlah hal yang mendadak. Ia telah merencanakannya sejak lama. “Sebelum menikah, saya sudah set di umur 30-an mau off kerja, lebih banyak di rumah slow living,” tuturnya.
Namun, titik baliknya datang setelah ia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak dua kali, yang mempercepat keputusannya untuk mengundurkan diri. Pengalaman tersebut membuatnya mempertanyakan stabilitas pekerjaan di sektor IT.
“Dari dulu sudah diingatkan senior, nanti akan banyak digantikan robot, AI. Setelah kejadian itu, saya mikir, apa sih yang enggak akan berhenti? Ya pangan,” kata dia.
Sejak saat itu, Dewi mulai membangun sumber pangan mandiri di rumahnya, sesuatu yang ia anggap lebih pasti selama manusia masih hidup. Di halaman rumahnya, ia menanam berbagai jenis tanaman mulai dari singkong, bayam, pakcoy, hingga tanaman herbal seperti jahe dan kunyit. Ia juga menanam pohon buah seperti pisang, alpukat, dan rambutan.
Kemandirian Protein dan Ekosistem Mandiri
Untuk memenuhi kebutuhan protein, Dewi memelihara ayam kampung petelur. Saat ini, terdapat sekitar 50 ekor ayam indukan di kandangnya. Sistem yang diterapkan bersifat berkelanjutan; anak ayam yang baru menetas dipelihara, lalu dipindahkan ke kandang pembesaran sebelum dijual saat berusia satu hingga tiga bulan.
“Untuk ayamnya sekitar 50 ekor indukan. Ada juga anak ayam yang dibesarkan lalu dijual. Yang dijual itu ayam sama telur. Kalau sayuran, lebih banyak untuk konsumsi sendiri,” ujarnya.
Dewi menekankan bahwa semua elemen di lahan tersebut saling terhubung. “Semua di sini saling terhubung. Tanaman, ayam, bahkan ikan, itu satu siklus,” imbuhnya.
Dengan memanfaatkan ruang secara maksimal, termasuk metode vertikal untuk menanam di lahan sempit, sebagian kebutuhan pangan keluarga kini dapat dipenuhi dari halaman rumah. “Protein sekitar 70 persen terpenuhi dari sini. Sayuran hijau juga sudah. Sisanya masih beli di pasar,” kata Dewi.
Ia menjelaskan, konsep mandiri pangan bukan berarti sepenuhnya tidak membeli kebutuhan dari luar, melainkan meminimalisir anggaran dapur. Hasil ternak ayam yang dijual pun bukan untuk mengejar keuntungan besar, melainkan untuk menutup biaya operasional seperti pakan, listrik, dan kebutuhan harian.
Karya Perempuan dari Dalam Rumah
Bagi Dewi, keputusan untuk kembali ke rumah tidak berarti berhenti berkarya. Ia belajar bertani dan beternak secara otodidak melalui jurnal dan pengamatan langsung terhadap tanaman serta hewan ternaknya setiap hari.
“Tanaman itu saya pelajarin benar-benar, sifatnya, kebutuhannya. Saya tongkrongin tiap hari,” katanya.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Dewi saat ini adalah pakan ternak. “Kalau racik sendiri mahal, kalau beli kadang langka. Jadi sekarang fokus saya kemandirian pakan,” ujarnya.
Hasil dari penjualan ayam dan produk turunannya digunakan untuk menutup biaya operasional. Penjualan dilakukan secara daring melalui media sosial. “Buat operasional saja. Bukan buat cari untung besar,” tegas Dewi.
Selain itu, ia juga sesekali membuka kelas dan menjadi narasumber terkait urban farming, yang ia anggap sebagai “bonus” rezeki tambahan.
Dewi memaknai Hari Kartini dengan pandangan bahwa perempuan tidak dilarang mencari uang, namun jika tidak ada urgensi, sebaik-baiknya perempuan adalah di rumah. Ia melihat peran perempuan sebagai bagian dari sistem yang saling mendukung dalam keluarga.
“Wanita itu berkarya bukan untuk mengimbangi laki-laki, tapi sebagai support system,” kata Dewi.
Menurutnya, dengan belajar dan mengeksplorasi kemampuan, rumah pun bisa menjadi sumber penghasilan jika direncanakan dengan matang. Dewi menilai, kontribusi perempuan bisa hadir dalam berbagai bentuk, termasuk menjaga ketahanan pangan keluarga.
“Rezeki itu bukan cuma uang. Cabai sama sayur yang kita tanam itu juga rezeki,” katanya.
Dampak Lingkungan dan Harapan ke Depan
Aktivitas yang dilakukan Dewi dan dibagikan di media sosial ternyata memberikan dampak positif, mendorong banyak orang untuk mencoba hal serupa. “Banyak yang awalnya ragu, jadi mulai berkebun, pelihara ayam,” ujarnya.
Di tengah kawasan yang semakin padat dan berkurangnya ruang hijau, Dewi melihat urban farming sebagai salah satu cara menjaga lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan pangan. “Sekarang sudah padat. Kita butuh oksigen, butuh ruang hijau. Minimal dari rumah masing-masing,” katanya.
Sore itu, Dewi kembali berjalan di antara pot-pot tanaman di halamannya, memeriksa daun yang tumbuh dan menengok kandang ayam. Di lahan terbatas itu, ia tidak hanya menanam sayuran atau memelihara ayam, tetapi juga membangun cara hidup yang ia yakini lebih berkecukupan. “Yang penting bisa makan, operasional jalan. Sisanya bonus,” ujarnya.
Tahun ini, fokus utama Dewi adalah kemandirian pakan ayam. Ia berencana meracik sendiri campuran jagung, dedak, dan protein nabati, lalu menjualnya kepada peternak kecil di sekitarnya dengan harga yang terjangkau. “Supaya mereka tidak teriak-teriak soal harga pakan naik,” katanya.
Rencana berikutnya adalah menjual pepaya organik dengan harga standar pasar, bukan harga premium organik. Tujuannya bukan keuntungan besar, melainkan agar masyarakat sekitar tetap dapat mengakses buah bergizi tanpa mengeluhkan harga.
Modal untuk semua aktivitas bertani dan beternak ini berasal dari limbah dapur. Dewi menyadari bahwa ia tidak menerima dukungan dari pemerintah, baik program, subsidi, maupun kolaborasi dinas. Namun, ia tetap tenang.
“Tersorot atau enggak, akan tetap bertani dan berternak,” katanya.
“Karena dampaknya yang pertama saya rasakan adalah saya pribadi dan keluarga. Yang kedua, orang-orang sekitar mulai sadar dan mau mengikuti,” pungkasnya.
Ikuti Akses.co.id
