Akses.co.id — PANGKALPINANG, BANGKA BELITUNG – Dari dapur sederhana di kawasan Bukit Merapen, Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung, aroma segar jeruk kunci kini menjelajah hingga pasar Korea Selatan. Di balik kisah sukses ini, berdiri Herawati (53), seorang perintis minuman jeruk kunci bermerek Mirrando yang berawal dari skala rumahan sejak 2013.
Perjalanan usaha Herawati tidak lepas dari rintangan. Pandemi Covid-19 sempat menghentikan produksinya pada tahun 2020 hingga 2021. Namun, ia tak menyerah. Herawati beralih membuat kue kering, menjajakannya dari warung ke warung demi memastikan dapur tetap mengepul.
Ketika pandemi mereda, semangat untuk kembali ke bisnis utamanya membuncah. Produksi minuman jeruk kunci dihidupkan kembali, kali ini dengan inovasi baru. Tak hanya minuman, Herawati mulai mengembangkan produk olahan lain seperti candy jelly, memanfaatkan melimpahnya pasokan jeruk kunci di daerahnya.
“Awalnya saya belajar otodidak karena jeruk kunci di sini pasokannya banyak. Saya pikir, kenapa tidak dijadikan minuman kemasan? Selama ini kan hanya dipakai untuk pelengkap sambal,” ujar Herawati saat ditemui di sela pameran Bekisah 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia di halaman Masjid Kubah Timah, Jumat (24/4/2026).
Inovasi Produk dan Jangkauan Pasar
Herawati menjelaskan, salah satu keunggulan minuman jeruk kunci Mirrando adalah masa kedaluwarsa yang bisa mencapai enam bulan tanpa tambahan bahan pengawet. Kesegaran produk ini dapat dipertahankan lebih lama jika disimpan dalam suhu dingin atau terhindar dari paparan sinar matahari langsung.
“Perasan jeruk kunci dengan tambahan sedikit garam langsung dikemas, sehingga kesegarannya tetap terjaga. Ini yang menjadi salah satu keunggulan dengan kombinasi bahan-bahan alami tanpa pengawet tambahan,” jelas Herawati.
Saat ini, minuman jeruk kunci dan candy jelly Mirrando dapat ditemukan di berbagai warung hingga toko oleh-oleh di Pangkalpinang. Herawati juga aktif melakukan penjualan daring melalui marketplace, memperluas jangkauan pasarnya. Selain di Bangka Belitung, produk Mirrando juga telah merambah beberapa gerai makanan di Jakarta.
“Karena ini sudah menjadi usaha keluarga, saya bersama suami dan anak-anak, berupaya agar pemasaran tetap jalan,” tutur Herawati, menekankan peran keluarganya dalam mengembangkan bisnis ini.
Tantangan Baru: Kenaikan Harga Kemasan
Sebagai usaha yang terus berkembang, Mirrando menghadapi tantangan baru. Setelah melewati masa pandemi, kenaikan harga kemasan plastik kini menjadi ancaman. Herawati mengungkapkan bahwa usaha home industry-nya terdampak kenaikan harga yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
“Kemasan botol plastik 250 ml dari biasanya Rp 1.050 kini naik menjadi Rp 1.500 per buah, itu sudah harga grosir naik. Mau tak mau kami juga harus menaikan sedikit harga dan orang toko bisa memahami,” ungkap Herawati.
Ia menambahkan, “Jadi selain bantuan kegiatan, kita juga berharap ada stabilitas bahan baku dan bahan bakar karena semua bisa terdampak.”
Peran Bank Indonesia dalam Mendukung UMKM
Herawati merupakan salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang turut serta dalam pameran Bekisah 2026. Acara ini diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) sebagai wadah bagi UMKM lokal untuk naik kelas ke tingkat regional maupun nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bangka Belitung, Rommy S Tamawiwy, menyatakan bahwa BI berkomitmen menyediakan fasilitas pendukung bagi UMKM, termasuk solusi transaksi pembayaran digital melalui QRIS.
“Ketika jalur penerbangan Singapura dibuka ke Bangka Belitung, maka kita menyiapkan bagaimana bisa bertransaksi. Sekarang ada program wajib halal Oktober, penyediaan laboratorium bekerja sama dengan IAIN SAS Bangka Belitung,” ujar Rommy, menjelaskan berbagai program dukungan yang telah disiapkan BI.
Ikuti Akses.co.id
