JAKARTA, KOMPAS.com – Abdul Azis (45), seorang guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam 1 Kamal Muara, Jakarta Utara, kini dapat bernapas lega setelah menerima bantuan sepeda motor dari relawan Gerak Bareng. Bantuan ini datang setelah kisah perjuangannya mengayuh sepeda ke sekolah demi mengajar menjadi viral.
Meski bersyukur atas rezeki yang diterimanya, Azis berharap bantuan serupa dapat menjangkau lebih banyak guru honorer lain yang juga menghadapi kendala serupa dalam menjalankan profesinya.
“Harapannya juga kepada para relawan atau donatur yang memang punya rezeki lebih, bisa membantu guru-guru yang punya kendala dalam aktivitas mengajarnya. Jadi bukan hanya saya saja,” ungkap Azis kepada Kompas.com saat ditemui di sekolahnya pada Kamis (23/4/2026).
Azis menyoroti kondisi sebagian besar guru honorer yang pendapatannya sangat terbatas, bahkan seringkali kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
“Jangankan untuk kebutuhan lain, untuk makan sehari-hari saja kadang tutup lubang gali lubang,” tuturnya prihatin.
Lebih lanjut, ia menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan para pendidik di Indonesia.
“Untuk pemerintah pusat, ya kami sebagai guru di Indonesia punya harapan. Kepada Bapak Presiden ataupun jajaran pemerintah dari yang teratas sampai terbawah, kami mohon untuk melihat para guru di Indonesia demi kesejahteraannya,” imbuhnya.
Kisah Viral Kayuh Sepeda ke Sekolah
Perjuangan Azis bermula pada November 2025, ketika sepeda motor satu-satunya miliknya hilang dicuri saat diparkir di depan rumahnya di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Sebagai guru agama Islam dan kesenian dengan gaji bulanan sebesar Rp 2 juta, Azis mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli kendaraan baru.
Akibatnya, ia terpaksa berangkat mengajar dengan mengayuh sepeda setiap hari, yang berarti harus berangkat lebih pagi dan menghadapi risiko di jalanan yang kerap dilalui truk kontainer.
“Kadang anak saya juga bilang, ‘Abi hati-hati awas ada mobil besar, minggir dikit.’ Bahkan kadang kami turun dari sepeda untuk menghindari mobil besar, jadi kami ambil jalan trotoar,” kenang Azis.
Bahkan, saat melewati tanjakan menuju Flyover Kamal Muara, Azis tak jarang harus menuntun sepedanya karena tidak kuat menanjak.
Terima Hadiah Motor dari Relawan
Dedikasi dan perjuangan Azis akhirnya menarik perhatian. Melalui penggalangan dana yang dilakukan oleh relawan Gerak Bareng, Azis akhirnya menerima hadiah sepeda motor.
Momen penerimaan bantuan tersebut tak kuasa membuat Azis menahan haru.
“Alhamdulillah ya, bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala ada orang baik yang banyak mau berpartisipasi sehingga bisa memberikan motor kepada saya. Saya sangat berterima kasih sekali dan juga sangat bersyukur sekali,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, dengan sepeda motor barunya, Azis tidak perlu lagi khawatir terlambat atau kelelahan di perjalanan saat menunaikan tugas mengajarnya.
Persoalan Guru Honorer Belum Selesai
Meskipun telah menerima bantuan pribadi, Azis menegaskan bahwa persoalan kesejahteraan guru honorer secara umum masih menjadi pekerjaan rumah besar. Gaji yang diterima oleh banyak guru honorer masih jauh dari kata layak, baik di Jakarta maupun di daerah lain.
Ia berharap pemerintah dapat lebih serius memperhatikan kesejahteraan guru honorer, termasuk membuka akses untuk peningkatan karier.
Azis juga mengusulkan agar kuota sertifikasi guru dapat ditingkatkan untuk mendongkrak penghasilan mereka.
“Kemudian juga untuk guru-guru yang lain kemungkinan buat yang di Diknas juga dibantu untuk P3K-nya dan lain sebagainya, agar kebutuhan ekonomi mereka bisa terpenuhi. Atau mungkin barangkali dengan cara berikan bantuan-bantuan yang lain, misalnya program-program bulanan,” tutupnya, menyuarakan harapan bagi rekan-rekannya sesama pendidik.






