Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan keprihatinan mendalam bahwa agresi Rusia terhadap negaranya kini terabaikan akibat eskalasi konflik di Iran. Zelensky menilai, sangat berisiko untuk berasumsi bahwa upaya perdamaian di Ukraina dapat ditunda hingga perang di Iran usai.
Pernyataan ini disampaikan Zelensky dalam wawancara dengan CNN pada Rabu (22/4/2026). Ia mengakui, meskipun pembicaraan teknis dengan Amerika Serikat masih berjalan, peluang untuk melakukan pertemuan langsung dengannya sangat kecil selama isu Iran belum terselesaikan. Amerika Serikat sendiri diketahui telah terlibat dalam perang dengan Iran sejak akhir Februari 2026, dan saat ini tengah berada dalam periode gencatan senjata.
Zelensky menyoroti tantangan yang dihadapinya, mengingat tim negosiator Amerika Serikat yang sama, yang dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, menangani kedua konflik tersebut secara bersamaan. Ia menekankan pentingnya untuk tidak melupakan perang yang masih berkecamuk di Ukraina, sekalipun perhatian global tertuju pada Iran.
“Tidak mungkin mengatakan kita akan membahas (Ukraina) nanti saja. Ukraina bukanlah ‘nanti saja.’ Ukraina sudah berada dalam tragedi yang begitu besar, kita harus mencari cara untuk menangani hal ini secara paralel,” tegas Zelensky.
Lebih lanjut, Zelensky memaparkan dampak negatif dari pengalihan fokus ini terhadap pasokan senjata krusial bagi Ukraina. Ia menyebutkan, terutama rudal anti-balistik, mengalami hambatan pasokan akibat keterbatasan kapasitas produksi di Amerika Serikat.
Ukraina Terima Suntikan Dana dari Uni Eropa
Situasi Ukraina sedikit mendapat angin segar setelah Uni Eropa menyetujui pinjaman sebesar 90 miliar euro, yang sebelumnya sempat tertunda. Zelensky menjelaskan kepada CNN, tanpa adanya dana tersebut, Ukraina mengalami kesulitan signifikan dalam memproduksi senjata dalam skala yang mereka inginkan.
Sebagai ilustrasi, Zelensky menyebutkan bahwa Ukraina saat ini mampu memproduksi sekitar 1.000 unit pencegat pesawat nirawak per hari. Namun, kapasitas produksi negara itu sebenarnya dapat mencapai 2.000 unit per hari.
“Tetapi kami tidak memiliki dana. Ini benar-benar masalah hidup kami, untuk bertahan hidup, untuk membela diri, kami sangat membutuhkan uang ini,” ujar Zelensky, menggarisbawahi urgensi bantuan finansial tersebut.






