— YOGYAKARTA – Serangkaian kekecewaan mendalam menyelimuti para orang tua yang menitipkan anak-anak mereka di Daycare Little Aresha, Yogyakarta. Fasilitas yang dijanjikan dalam brosur ternyata jauh dari kenyataan, bahkan berujung pada penemuan praktik kekerasan terhadap anak-anak yang diasuh, memicu kepolisian untuk melakukan penggerebekan pada Jumat sore (24/4/2026).

Hita, salah seorang orang tua korban, mengungkapkan keterkejutannya saat memasuki ruang penitipan anak bersama polisi. Ia mendapati kondisi yang sangat berbeda dari janji manis yang ditawarkan oleh pihak Daycare Little Aresha. Sebelumnya, pihak daycare menjanjikan fasilitas lengkap seperti pendingin ruangan (AC), kasur yang nyaman, beragam mainan edukatif, serta program pendidikan multibahasa dan dasar agama.

“Dilihatin semua video-video dan foto-foto dan akhirnya dipersilakan masuk ke daycare-nya yang tidak sesuai fasilitasnya dengan brosur yang ada,” ujar Hita pada Sabtu (25/4/2026), menggambarkan jurang pemisah antara ekspektasi dan realitas.

Kenyataannya, ruangan tersebut tidak dilengkapi AC maupun kasur yang memadai. “Fasilitas yang dijelaskan lengkap yaitu ada AC, kasur, mainan, dapat makan di usia dua tahun, mandi, dan lain-lain. Yang kenyataannya tanpa AC, tanpa kasur, hanya matras puzzle,” tuturnya dengan nada prihatin.

Kekecewaan Hita semakin bertambah mengingat ia telah mempercayakan anaknya di Daycare Little Aresha sejak berusia 3,5 bulan pada tahun 2024. Biaya penitipan yang semula Rp 1 juta per bulan, kini naik menjadi Rp 1,2 juta pada tahun ini, dengan alasan peningkatan biaya pendidikan.

Fakta Mengerikan Terkuak: Tangan dan Kaki Anak Diikat

Situasi menjadi semakin mencekam ketika pihak kepolisian mengungkap praktik kekerasan yang diduga dilakukan oleh para pengasuh. Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, membeberkan temuan mengerikan saat penggerebekan berlangsung.

“Ada yang kakinya diikat, tangannya diikat, dan sebagainya,” tegas Adrian di Mapolresta Yogyakarta, mengonfirmasi dugaan perlakuan tidak manusiawi.

Aldewa, orang tua korban lainnya, baru menyadari anaknya menjadi korban setelah melihat video yang beredar di media sosial. Sebelumnya, ia sempat menemukan luka lebam di kaki anaknya, namun menganggapnya sebagai akibat dari kecelakaan saat bermain.

“Saya baca jam 5 sore, ada ibu jemput katanya lihat di video sudah posisi diikat dan segala macam. Terakhir kemarin dijemput mbahnya itu ada luka lebam di kaki. Istri saya bilang kayaknya jatuh, jadi saya tidak tanya pihak sekolah,” cerita Aldewa, menyesali kelengahan awalnya.

Dampak Psikologis Jangka Panjang dan Saran Pemulihan

Menanggapi kasus yang menghebohkan ini, praktisi psikologi dan pemerhati perkembangan anak, Dr. Shinta, M.Si., M.A., memberikan peringatan keras mengenai dampak jangka panjang kekerasan pada anak usia dini.

“Kekerasan dapat mengganggu proses dia (korban) dalam beradaptasi, sehingga anak membentuk persepsi bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman baginya,” jelas Shinta yang akrab disapa Bunda Cinta.

Secara psikososial, merujuk pada teori Erik Erikson, kekerasan yang dilakukan oleh figur otoritas seperti pengasuh dapat merusak pondasi rasa percaya (trust) anak. Konsekuensinya bisa sangat fatal, mulai dari hilangnya kemandirian, munculnya rasa malu dan ragu, hingga rendahnya harga diri.

Langkah Pemulihan Trauma

Untuk membantu anak-anak korban pulih dari trauma, Dr. Shinta menyarankan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya tanpa paksaan.

“Berikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya melalui cerita, bermain, atau menggambar tanpa paksaan. Jangan menuntut anak segera pulih,” tegasnya.

Ia juga mengimbau para orang tua untuk tidak ragu mencari bantuan profesional, seperti psikolog anak, jika ditemukan gejala trauma yang menetap pada buah hati mereka. Tindakan proaktif ini penting untuk memastikan pemulihan psikologis anak.