Otomotif

Curhat Pemilik Toyota Veloz CVT: Irit Tapi Ada Catatan di Transmisi

Advertisement

JAKARTA, Kompas.com – Efdi Derian Dani, seorang pemilik Toyota Veloz CVT lansiran 2022 asal Karawang, Jawa Barat, membagikan pengalamannya selama empat tahun menggunakan mobil keluarga tersebut. Ia menyoroti efisiensi bahan bakar sebagai keunggulan utama, namun tak luput dari catatan pada performa transmisi CVT dan kualitas materialnya.

Menurut Efdi, Toyota Veloz CVT tergolong irit dalam konsumsi bahan bakar, baik untuk perjalanan dalam kota maupun luar kota. Ia mencatat konsumsi BBM di kisaran 12-13 km per liter saat menghadapi kemacetan parah. Angka tersebut meningkat menjadi 16-17 km per liter ketika lalu lintas lancar.

Bahkan, untuk rute tol atau kombinasi, konsumsi bahan bakar bisa mencapai 18 km per liter hingga di atas 22 km per liter. Efdi mengaku pernah mencetak rekor pribadi 27 km per liter dalam perjalanan Bandung-Karawang, meskipun kondisi lalu lintas tidak sepenuhnya mulus.

Selain irit, kenyamanan berkendara juga menjadi nilai tambah bagi Efdi. Ia menilai posisi duduk mobil tersebut ergonomis dan memberikan kesan menyatu dengan jalan layaknya sedan. Dengan tinggi badan 183 cm, Efdi merasa nyaman tanpa merasa tenggelam, dan ruang kabin pun cukup lega untuk penumpang dengan postur rata-rata orang Indonesia.

Dari sisi pengendalian, Efdi memberikan apresiasi positif. Ia menyebut handling Veloz CVT tergolong “napak” untuk ukuran Low MPV. Body roll terasa minim pada kecepatan rendah hingga menengah, sementara respons setir dinilai cukup cekatan untuk penggunaan dalam kota maupun perjalanan antarkota.

Catatan pada Material dan Performa Transmisi

Namun, Efdi juga menemukan beberapa kekurangan pada Toyota Veloz CVT. Ia menyoroti kualitas material yang menurutnya masih perlu ditingkatkan. Sejak mobil baru, Efdi mengaku menemukan bunyi getar atau rattle pada beberapa panel, seperti dashboard dan door trim. Kekedapan kabin juga dinilai kurang optimal.

Kekurangan lain yang disorot adalah performa transmisi CVT. Untuk penggunaan normal, akselerasi masih terasa cukup. Akan tetapi, saat menghadapi medan berat seperti tanjakan panjang, Efdi merasa tenaga mobil sulit keluar secara maksimal.

Advertisement

“Bahkan dengan mode manual atau power mode, performanya tetap bergantung pada momentum, dan terkadang sistem justru membatasi tenaga,” ujar Efdi.

Desain bagian depan, khususnya approach angle, juga menjadi perhatian Efdi. Bumper depan yang cukup panjang dan rendah membuatnya harus ekstra hati-hati saat melewati jalan tidak rata atau saat “blusukan”, karena berisiko bergesekan dengan permukaan jalan.

Biaya Kepemilikan dan Perawatan

Dari sisi biaya kepemilikan, pajak tahunan Toyota Veloz CVT non-TSS miliknya di Karawang mencapai Rp 3.308.500. Rinciannya terdiri dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sebesar Rp 1.928.000, opsen PKB Rp 1.272.500, dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) Rp 108.000.

Untuk perawatan, servis rutin dilakukan di bengkel resmi dengan biaya sekitar Rp 1 jutaan per kunjungan. Biaya tersebut mencakup pembersihan AC, penggantian filter oli, dan kampas rem.

Selama empat tahun pemakaian, Efdi belum melakukan penggantian komponen besar. Ia hanya mengganti komponen fast moving sesuai buku manual. Ia juga pernah mengganti aki dengan biaya Rp 1,2 juta, atau sekitar Rp 900.000 jika melakukan tukar tambah.

Secara keseluruhan, pengalaman Efdi menunjukkan bahwa Toyota Veloz CVT menawarkan kombinasi efisiensi, kenyamanan, dan handling yang baik untuk penggunaan harian maupun perjalanan jauh. Namun, kualitas material dan performa di medan berat masih menjadi catatan penting bagi pengguna.

Advertisement