Megapolitan

Curhat ke DPRD DKI, Kasatpol PP Ungkap Anggotanya Alami Tensi Tinggi karena Beban Kerja

Advertisement

JAKARTA, Kompas.com — Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi kesehatan anggotanya. Hasil pemeriksaan kesehatan terbaru menunjukkan banyak personel Satpol PP mengalami tekanan darah tinggi akibat beban kerja yang dinilai tidak sebanding dengan jumlah personel yang ada.

Temuan ini disampaikan Satriadi dalam rapat bersama Komisi A DPRD DKI Jakarta di Gedung DPRD DKI, Kamis (23/4/2026). “Kemarin kami melakukan cek, medical check-up, ternyata tensi darah, tensi tingginya luar biasa. Nah itu mungkin mohon Bapak, Ibu Komisi A bisa memperhatikan kami,” ujar Satriadi saat menyampaikan aspirasinya.

Beban Kerja Berlipat, Fasilitas Minim

Satriadi merinci, tingginya tekanan darah pada anggota Satpol PP tidak terlepas dari beban kerja yang sangat berat, diperparah dengan keterbatasan sarana dan prasarana, terutama di tingkat kelurahan. Ia menyoroti bahwa jumlah personel Satpol PP di setiap kelurahan hanya berkisar antara tujuh hingga sepuluh orang.

Jumlah personel yang terbatas ini dinilai sangat tidak sebanding dengan tugas pengawasan dan penertiban wilayah yang harus diemban. Akibatnya, banyak anggota terpaksa bekerja dalam durasi yang sangat panjang, bahkan mencapai 36 jam tanpa istirahat yang memadai.

“Anggota Satpol PP di setiap kelurahan itu hanya sekitar 7-10 orang. Nah, kenapa kami lakukan 36 jam? Karena beban kerjanya dengan jumlah personilnya tidak sebanding,” jelas Satriadi.

Minimnya Tempat Istirahat

Selain beban kerja yang menumpuk, Satriadi juga menyoroti minimnya tempat istirahat yang layak bagi anggota, khususnya bagi mereka yang menjalani tugas jaga 24 jam di kantor kelurahan. Saat ini, banyak anggota terpaksa menggunakan mushala atau lorong kantor sebagai tempat beristirahat karena tidak tersedianya ruang istirahat yang memadai.

Advertisement

“Sekarang masih numpang di mushala, kadang-kadang di lorong. Bagaimana mereka bisa bekerja dengan baik besoknya untuk melakukan penertiban? Pasti tensinya kan tinggi-tinggi semua,” keluh Satriadi.

Angka Kematian dan Harapan Perbaikan

Lebih lanjut, Satriadi mengungkapkan data yang cukup mencengangkan. Dalam kurun waktu hampir satu tahun terakhir, sekitar 35 anggota Satpol PP dilaporkan meninggal dunia. Angka ini hampir menyamai jumlah pada tahun sebelumnya yang mencapai 42 orang.

Ia menegaskan bahwa tingginya angka kematian ini bukan disebabkan oleh faktor kepemimpinan, melainkan lebih kepada beratnya pekerjaan dan minimnya fasilitas pendukung yang memadai.

Meskipun demikian, Satriadi mengapresiasi dukungan yang telah diberikan oleh DPRD DKI Jakarta, terutama dalam penyediaan makan dan minum bagi anggota yang bertugas piket. Namun, ia sangat berharap adanya perhatian lebih dari pihak legislatif, khususnya terkait perbaikan fasilitas istirahat dan pengaturan jam kerja yang lebih manusiawi.

“Kami berharap ada perbaikan fasilitas dan sistem kerja, supaya anggota bisa tetap sehat dan bekerja dengan baik,” tutup Satriadi.

Advertisement