— BENGKULU, KOMPAS.com — Jembatan gantung sepanjang 45 meter di Desa Simpang, Kecamatan Seluma Utara, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, telah rusak selama 15 tahun. Kondisi ini memaksa warga, termasuk siswa sekolah, menyeberangi Sungai Air Simpang yang lebarnya mencapai 46 meter setiap hari, bahkan terpaksa libur saat air pasang.

Kepala Desa Simpang, Rezon Efendi, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas nasib warganya yang bergantung pada jembatan tersebut untuk mengakses berbagai fasilitas vital. “Kami membutuhkan jembatan yang menghubungkan desa dengan wilayah di luar seperti sekolah, pasar, dan layanan umum lainnya. Namun sejak 15 tahun jembatan rusak maka menyeberangi sungai sudah jadi perjalanan sehari-hari,” ujar Rezon saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, jalur alternatif yang ada berjarak sangat jauh, mencapai sekitar 10 kilometer. Sementara itu, menyeberangi sungai hanya memakan waktu tempuh sekitar 3,5 kilometer, sehingga warga memilih opsi yang lebih cepat meski penuh risiko.

Risiko Menyeberangi Sungai

Situasi semakin genting ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Debit air Sungai Air Simpang meningkat drastis, dari kondisi normal sekitar satu meter menjadi dua meter saat pasang. Kondisi ini membahayakan keselamatan warga, terutama anak-anak sekolah.

“Jadi kalau hujan air sungai bertambah, anak-anak terpaksa libur. Mereka akan telepon guru izin tidak dapat sekolah karena sungai meluap, para guru sudah memahami kondisinya,” tutur Rezon.

Selain itu, insiden kendaraan warga yang terseret arus sungai juga kerap terjadi. “Kalau kejadian motor, mobil, terjebak arus sungai sering terjadi,” jelasnya. Rezon menambahkan, meski demikian, pihaknya bersyukur hingga saat ini belum ada korban jiwa akibat musibah tersebut.

Harapan Pembangunan Jembatan yang Pupus

Rezon Efendi menyatakan bahwa usulan pembangunan jembatan telah diajukan secara rutin setiap tahun kepada pemerintah daerah. Namun, hingga kini, harapan tersebut belum juga terwujud.

Pernah ada angin segar pada tahun 2022 ketika rencana pembangunan jembatan dengan anggaran mencapai Rp 3,5 miliar sempat bergulir. Sayangnya, rencana tersebut terpaksa batal akibat adanya efisiensi anggaran. “Namun pembangunannya batal sampai sekarang, terkena efisiensi anggaran, harapan hadirnya jembatan makin hilang,” keluhnya.

Hingga berita ini diturunkan, Bupati Seluma, Teddy Rahman, belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan warga Desa Simpang mengenai jembatan yang tak kunjung dibangun.