Akses.co.id — BLORA, KOMPAS.com – Kehadiran Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora di Jawa Tengah menjadi secercah harapan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Program pendidikan gratis ini terbukti efektif menyelamatkan siswa dari ancaman putus sekolah yang disebabkan oleh kendala ekonomi, ancaman pernikahan dini, hingga jerat utang keluarga.
Takifanur Salma, seorang siswa kelas X di SRMA 18 Blora, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa menambah beban finansial orang tuanya yang berprofesi sebagai buruh tani. “Kedua orang tua saya buruh tani. Mereka sulit mencari biaya saya sekolah. Dengan SRMA 18 Blora ini saya berharap bisa bersekolah dengan baik dan mendapatkan prestasi yang gemilang,” ujar Salma, dalam keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Minggu (26/4/2026).
Fasilitas Lengkap untuk Mendukung Pendidikan
Salma, yang memiliki cita-cita menjadi dokter, merasa sangat terbantu dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah melalui Program Sekolah Rakyat. Keberadaan asrama dan jaminan kebutuhan harian memungkinkannya untuk sepenuhnya fokus pada kegiatan akademik. “Saya dapat seragam, laptop, ruang kelas yang nyaman, ruang makan yang nyaman, aula yang nyaman, dan juga ruang asramanya sangat nyaman,” tuturnya.
Selain fasilitas fisik, para siswa juga mendapatkan jaminan konsumsi berupa tiga kali makan utama dan dua kali makanan ringan setiap hari. Lingkungan sekolah yang suportif turut berperan dalam meningkatkan kepercayaan diri Salma. “Dengan adanya Sekolah Rakyat ini, saya mengemban ilmu dan bisa menjadi apa yang saya inginkan nanti untuk menjadi dokter,” ucapnya.
Menolak Pernikahan Dini Demi Meraih Cita-cita
Kisah serupa datang dari Citra Lestari, siswa kelas X lainnya. Sebelum bergabung dengan SRMA 18 Blora, Citra nyaris kehilangan masa depannya karena sempat diarahkan untuk menikah dini oleh keluarganya akibat keterbatasan biaya. “Karena dulu saya ingin melanjutkan sekolah, namun karena biaya ekonomi orang tua saya kurang, jadinya saya tidak melanjutkan sekolah. Saya mau dinikahkan oleh orang tua saya. Tapi saya tidak mau karena ingin melanjutkan sekolah,” kenang Citra.
Kini, Citra aktif mengejar mimpinya menjadi guru Bahasa Indonesia melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler, termasuk Karya Ilmiah Remaja (KIR), Palang Merah Remaja (PMR), seni tari, hingga Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Ia merasa nyaman dengan lingkungan sekolah yang didampingi oleh guru-guru yang komunikatif. “Gurunya di sini nggak ada yang galak, asik-asik semua,” imbuhnya.
Bertahan di Tengah Jerat Utang Keluarga
Kondisi yang paling memprihatinkan dialami oleh Rina Ayu Mesaroh. Keluarganya terpaksa kehilangan tempat tinggal setelah rumah dan tanah mereka disita oleh bank akibat tumpukan utang. Rina menceritakan bahwa penghasilan ayahnya sebagai pekerja serabutan hanya berkisar Rp 500.000 per bulan, sementara ibunya bekerja sebagai buruh tani dengan pendapatan yang tidak menentu. “Rumahnya itu sudah nggak ada, soalnya digadaikan di bank dan tanahnya juga tuh diambil sama bank. Lalu saya pindah ke rumah Mbah saya,” ungkap Rina.
Beruntung, informasi dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mengantarkannya ke SRMA 18 Blora. Di sekolah ini, seluruh kebutuhan hidup dan pendidikannya terpenuhi secara gratis. “Saya mendapatkan fasilitas yang bagus, pembelajaran yang memadai, guru-guru yang hebat, lingkungan yang baik, dan kebutuhan hidup yang tercukupi,” ujar Rina yang bercita-cita menjadi apoteker.
Program Sekolah Rakyat ini dirancang khusus untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Fokus utamanya adalah anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang selama ini menghadapi hambatan signifikan dalam mengakses pendidikan jenjang menengah ke atas.
Ikuti Akses.co.id
