Akses.co.id — DEPOK, KOMPAS.com – Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang dijadwalkan berlangsung pada 21-30 April 2026 ini kerap menimbulkan tekanan psikologis bagi para peserta. Menyadari hal tersebut, banyak orang tua kini memilih untuk menurunkan ekspektasi demi menjaga kesehatan mental anak-anak mereka dalam menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Pergeseran pola pikir ini terlihat dari kehadiran para orang tua yang mendampingi anak mereka di berbagai pusat ujian, termasuk di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ). Sejumlah orang tua yang diwawancarai Kompas.com sepakat bahwa tuntutan nilai sempurna tidak lagi menjadi prioritas utama. Sebaliknya, menanamkan daya juang selama masa persiapan dianggap lebih esensial.
“Ibu tidak melihat nilai yang diraih, ibu cuma mau anak berusaha dan menikmati prosesnya,” ujar Endah (41) saat ditemui di kampus UI, Kota Depok, Kamis (23/4/2026).
Menjaga Kewarasan Anak Melalui Keikhlasan
Endah secara khusus menanamkan nilai keikhlasan kepada anaknya, Zahra, yang berkeinginan masuk jurusan Psikologi di UI dan Hukum di Universitas Padjadjaran (Unpad). Ia mendorong sang anak untuk berserah diri kepada Tuhan ketimbang meratapi hasil akhir yang mungkin tidak sesuai harapan.
“Segala sesuatu yang kita inginkan itu belum tentu sesuai kehendak Tuhan. Hasil itu biar nanti menjadi urusan yang di Atas, yang penting kamu berusaha,” tutur Endah.
Dukungan penuh untuk fokus pada proses juga diwujudkan Endah dengan memfasilitasi bimbingan belajar selama sepuluh bulan terakhir. Ia menegaskan tidak akan menuntut kelulusan sebagai imbalan atas biaya yang telah dikeluarkan untuk pendidikan tambahan tersebut.
“Urusan nanti anak bagaimana perkara nilai, ibu tidak ambil pusing. Yang penting anak sudah berusaha serius memanfaatkannya,” tambah Endah.
Pandangan serupa juga dipegang teguh oleh Yudin (50), yang mengambil cuti kerja demi mendampingi putrinya, Adelita. Ia mengaku terharu melihat dedikasi sang anak yang rela bangun pukul dua dini hari untuk salat tahajud demi mengejar kursi Manajemen di Universitas Lampung (Unila) dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).
“Yang penting kita sudah usaha benar-benar, sudah usaha serius. Hasilnya nanti kita lihat saja seperti apa dan diserahkan saja,” kata Yudin di kampus UI.
Menurunkan Ekspektasi untuk Mencegah Stres dan Depresi
Sikap legowo para orang tua ini muncul sebagai respons terhadap maraknya kompetisi masuk perguruan tinggi negeri. Devi (40), ibu dari Aisyah yang berjuang menembus jurusan Sastra Inggris dan Bahasa Korea di UI serta Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mengaku menghindari pola asuh yang terlalu kaku.
“Kalau anak dituntut terlalu banyak sama orang tuanya, itu bikin anak stres. Nanti ujung-ujungnya bisa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti bunuh diri,” ungkap Devi di UPNVJ.
Berangkat dari fenomena yang mengkhawatirkan tersebut, Devi selalu menekankan kepada putrinya bahwa pencapaian akademik bukanlah penentu nilai diri seorang anak di mata keluarga. Ia secara konsisten membebaskan sang anak dari beban ekspektasi yang mengekang agar tidak merasa tertekan saat menghadapi soal-soal ujian yang sulit.
“Tidak apa-apa nilai jelek juga, yang penting anak jangan stres. Jangan merasa dituntut terlalu banyak sama orang tua,” jelas Devi.
Fokus pada Proses sebagai Bekal Karakter Tangguh
Lebih dari sekadar mencegah stres sementara, menghargai proses belajar juga dinilai ampuh untuk membentuk ketangguhan mental anak di masa depan. Uti (45) mempraktikkan prinsip pengasuhan ini kepada anak laki-lakinya, Nadif, yang berambisi masuk jurusan Teknik Elektro di Universitas Diponegoro (Undip), UPNVJ, dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).
“Karena proses itu akan lebih tahan lama. Anak itu nanti akan bisa menurunkannya ke anak cucunya di masa depan,” ucap Uti.
Ibu tiga anak ini meyakini bahwa membiasakan anak merayakan setiap tetes keringat perjuangannya akan melahirkan generasi yang lebih tangguh. Uti menganalogikan rentetan kegagalan hidup yang dialami anak layaknya berlatih mengerjakan soal-soal paling rumit, agar kelak mereka terbiasa menyelesaikan rintangan dengan kepala dingin.
“Lebih baik pernah mencoba daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Hasilnya apa pun, ya sudah diserahkan saja karena semua pasti ada pelajarannya,” pungkas Uti.
Ikuti Akses.co.id
