Megapolitan

Cerita Neng Molen, Kucing Jalanan yang Kini Jadi “Selebcing” di Medsos

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Sekitar empat tahun lalu, Neng Molen hanyalah seekor kucing jalanan tanpa identitas yang berkeliaran di antara deretan rumah warga. Namun, keberanian untuk melompat masuk melalui jendela sebuah kamar telah mengubah hidupnya. Kini, kucing yang dulunya tak memiliki atap untuk berteduh itu telah menjelma menjadi primadona media sosial.

Bagi Anisa Dwi (28), atau yang akrab disapa Ica, kehadiran Neng Molen adalah bukti bahwa hewan peliharaanlah yang sebenarnya memilih majikan mereka, bukan sebaliknya. Pada tahun 2021, Neng hanyalah salah satu dari sekian banyak kucing liar yang melintas. Namun, Neng memiliki cara yang tidak biasa untuk memperkenalkan diri.

“Dia tuh bahkan dateng ke rumah tuh bukan ke rumahnya tapi ke kamar aku naik lewat jendela, itu juga aku yang bikin kaget sih dia langsung milihnya kamar aku,” kenang Ica saat dihubungi, Rabu (22/4/2026).

Keputusan untuk mengadopsi Neng pun diambil tanpa keraguan. “Dia dateng ke rumah terus kayak dateng terus ya sudah akhirnya aku adopsi aja karena udah terlanjur sayang kayak cinta pada pandangan pertama aja sama dia,” tutur dia.

Transformasi “Neng Kampung” Menjadi Selebriti Kucing

Nama “Neng Molen” ternyata punya sejarah yang cukup lucu. Ica yang berasal dari Purwakarta menyebut panggilan “Neng” awalnya hanyalah sapaan sayang yang spontan. Ia merasa kucing jalanan yang ia adopsi itu terlihat cantik layaknya “Neng” atau gadis Sunda, meski saat pertama kali ditemukan kondisinya masih belum terawat.

“Neng itu ya aku kan orang Sunda, orang Purwakarta. Jadi sebenarnya kayak cuma karena Neng cantik, cewek Sunda gitu aku liat, walaupun sebenarnya pas aku liat dia tuh jelek banget dulu tapi di mata aku dulu dia cantik,” kenang Ica.

Namun, Ica sempat merasa agak canggung jika hanya menggunakan nama “Neng” saat harus membawa kucingnya ke klinik hewan. Ia merasa nama itu terdengar terlalu sederhana dan kental dengan kesan “kampung” untuk didaftarkan di buku medis dokter. Dari situlah muncul ide untuk menambahkan nama belakang yang unik berdasarkan bentuk fisik sang kucing.

Pemilihan nama “Molen” sendiri terinspirasi dari kebiasaan Neng saat sedang duduk. Ica memperhatikan postur tubuh kucingnya yang bulat dan padat, sangat mirip dengan bentuk kue bolen cokelat atau pisang molen.

“Kenapa Molen? Karena bentuknya seperti molen, kayak kue bolen-bolen gitu. Dia kan kalau lagi duduk tuh kayak bolen coklat gitu lucu, cuma karena gitu aja sih,” kata Ica.

Seiring berjalannya waktu, kombinasi nama tersebut justru menjadi branding yang kuat di media sosial. Nama “Neng” tetap dipertahankan, sementara “Molen” menjadi identitasnya. Tak disangka, perpaduan ini malah membuat Neng Molen dikenal luas sebagai ikon “Kucing Sunda” oleh para pengikutnya.

Popularitas yang Tak Direncanakan

Perjalanan Neng menjadi selebriti kucing (selebcing) dimulai tanpa skenario. Ica, sebagai pemilik, awalnya hanya ingin mendokumentasikan keseharian kucing pertamanya itu di media sosial sebagai arsip pribadi. Tak disangka, karakter Neng yang kuat dan dominan justru membuat warganet jatuh cinta.

“Neng itu yang paling banyak tingkahnya di rumah dan emang paling alfa juga di rumah walaupun dia betina tapi dia tuh paling alfa gitu aktif. Emang lebih banyak tingkah aja sih jadi kayak kontenable,” jelas Ica.

Sejak akhir 2023, permintaan publik untuk melihat lebih banyak konten Neng terus mengalir deras. Siapa sangka, akun @Nengmolencantik kini memiliki ratusan ribu pengikut. Kini, Neng tidak hanya dikenal di layar kaca. Ia mulai mengisi talkshow hingga mengadakan meet and greet.

“Kayaknya kalau itu mulai ada undangan sebenarnya dari 2024 akhir cuman kalau mulai udah ada kasarnya mengisi talkshow yang solo kayak di mall 2025 dari talkshow, meet and greet gitu,” ujarnya.

Bahkan, di luar tingkah lucunya, Neng turut dikenal karena gaya berpakaiannya yang modis, mulai dari baju hingga aksesoris yang membuatnya terlihat seperti sosialita dunia kucing. Meski memiliki raut wajah yang “judes” dan penuh mood, Neng justru terlihat sangat menikmati saat didandani.

“Aku juga enggak pernah memaksakan Neng saat dibaju. Karena kalau misalnya ngelihat Neng di event-event atau di video, Neng tuh sangat-sangat enjoy. Kayak dia emang suka gitu pakai baju, dan bahkan aku tuh suka ngegep dia kalau dia udah pakai baju tuh dia suka ngaca,” cerita Ica.

Antara Konten dan Kenyamanan Neng

Menjadi selebritas berarti harus siap bekerja di bawah lampu kamera. Namun, karena status Neng sebagai kucing peliharaan adalah prioritas, Ica menerapkan standar. Tidak ada paksaan dalam setiap konten yang dibuat. Ica lebih memilih menjadi pengamat yang selalu siap dengan ponselnya untuk menangkap momen natural Neng.

“Neng lagi bertingkah apa ya sudah natural. Aku record, aku upload, gitu jadi mungkin dari situ orang merasa ikut membaur,” kata Ica.

Bahkan untuk urusan kerja sama dengan sebuah produk, Ica sangat memperhatikan suasana hati sang kucing. “Aku pasti nunggu mood Neng tuh bagus jadi enggak ada cara khusus. Jadi kayak script aja aku tuh pasti menyesuaikan misalnya kayak brand minta storyline nih, aku pasti dikasih note kondisi Neng disesuaikan. Jadi kayak nanti Neng mau lagi ngapain, kita sesuaikan aja,” ujar dia.

Advertisement

Kerja keras Neng kini membuahkan hasil yang luar biasa. Dari penghasilannya, Neng tidak hanya mampu membiayai hidupnya sendiri dengan fasilitas mewah seperti litter box otomatis dan stroller, tetapi juga membantu 12 kucing lainnya di rumah Ica.

“Sangat cukup untuk penghidupan Neng, terus kayak 12 kucing lainnya dan aku juga alhamdulillah aku selalu sisihkan rezeki Neng juga buat kucing-kucing lainnya,” ujar Ica.

Popularitas Neng Molen yang meroket ini pun membawa dampak yang tidak terduga bagi kehidupan pribadi Ica. Kini Ica sendiri sering kali dikenali oleh orang asing di tempat umum, bahkan saat ia sedang tidak membawa Neng bersamanya.

“Dampaknya luas juga ya, maksudnya kayak dari pet ini kayak gue pansos ke kucing. Aku saat tidak membawa Neng aja udah ada yang kenal aku sih, itu yang anehnya. Tapi kalau misalnya di pet expo atau di pet event, udah pasti aku setiap jalan dikit diberhentiin,” kata dia.

Neng Molen

Penonton Mencari Hiburan

Saras (27), salah satu penikmat konten hewan, mengaku hampir setiap hari mengonsumsi konten semacam Neng Molen, terutama melalui TikTok dan Instagram saat waktu senggang. Ia menyebut daya tarik utama konten hewan terletak pada kesederhanaan dan kealamiannya. Menurut dia, justru momen spontan dalam keseharian hewan terasa lebih menghibur dibandingkan konten yang terlalu dikemas.

“Saya paling suka yang natural dan lucu, misalnya kucing yang tingkahnya aneh, atau anjing yang interaksi sama pemiliknya. Yang kayak keseharian gitu justru lebih menarik daripada yang terlalu di-setting,” ujarnya saat dihubungi, Rabu.

Bagi Saras, konten hewan juga menjadi pelarian dari rutinitas yang melelahkan. Ia merasa tayangan tersebut mampu memberikan efek relaksasi, meski hanya ditonton dalam waktu singkat.

“Misalnya lagi capek kerja atau lagi bad mood, nonton konten hewan bisa bikin lebih santai,” kata dia.

Pengganti karena Alergi

Sementara itu, Shafa (25) mengaku hampir setiap hari menonton konten hewan di media sosial, terutama di TikTok dan Instagram, sebagai pelarian atas keinginan memiliki hewan peliharaan yang belum bisa ia penuhi. Shafa mengaku sejak lama ingin memelihara kucing, tetapi kondisi alergi membuatnya harus mengurungkan niat tersebut.

“Iya dari dulu sebenarnya pengin banget punya kucing di rumah, tapi saya punya alergi bulu yang cukup parah,” tuturnya lewat pesan WhatsApp.

Karena itu, menonton konten hewan menjadi semacam pelarian sekaligus pengganti interaksi yang tidak bisa ia rasakan secara langsung. “Karena nggak bisa punya langsung, jadi nonton konten hewan itu kayak pelampiasan rasa pengin punya peliharaan,” ucapnya.

Tak hanya sebagai pelarian, konten hewan juga memiliki peran dalam membantu menjaga suasana hati. Shafa merasa tayangan sederhana tersebut mampu memberikan efek positif, terutama saat ia sedang lelah.

“Kadang kalau lagi capek, lihat video hewan itu bisa bikin senyum sendiri,” ujar dia.

Tak Hanya Gemas, Tapi Unik

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, menilai bahwa popularitas hewan peliharaan di media sosial tidak hanya ditentukan oleh sisi menggemaskan, tetapi juga oleh keunikan yang dimiliki serta kesesuaian dengan minat audiens tertentu. Ia menjelaskan, konten hewan tidak akan mudah menarik perhatian jika hanya menampilkan hal yang biasa tanpa adanya ciri khas yang membedakan.

“Karena sekali lagi tadi harus ada keunikan dari binatang itu kalau binatang itu cuma binatang reguler ya tidak bisa punya satu hal yang menarik bagi orang tentunya tidak akan bisa menjadi selebriti,” jelas Rissalwan saat dihubungi melalui WhatsApp, Rabu.

Menurut dia, tingginya minat terhadap konten hewan juga dipengaruhi oleh ketertarikan personal penonton, sekaligus interaksi yang terjalin antara pemilik dan hewan peliharaannya.

“Misalnya kucing ya dia akan mencari konten-konten yang menarik dengan kucing dan tadi kucing itu punya keunikan ya. Misalnya bulunya bagus, peranakan dari mana, punya kemampilan khusus. Burung juga gitu ya,” kata dia.

Advertisement