Akses.co.id — Yogyakarta – Di tengah kelulusan ratusan mahasiswa pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) periode April 2026, sosok dokter muda bernama dr. Istiqomah Katin, Sp.A., menorehkan prestasi membanggakan. Ia berhasil meraih predikat sebagai lulusan termuda program spesialis pada usia 28 tahun 6 bulan, sebuah pencapaian yang jauh melampaui rata-rata usia lulusan spesialis periode ini yang mencapai 34 tahun 5 bulan.
Isti, demikian ia akrab disapa, merupakan satu dari 1.638 lulusan resmi yang diwisuda dalam Upacara Wisuda UGM Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026. Kelulusan ini mencakup 1.388 magister (S2), 83 spesialis, 21 subspesialis, dan 146 doktor (S3).
Perjalanan Pendidikan yang Terencana Sejak Dini
Berasal dari Bengkulu, Isti telah menunjukkan ketekunan dan konsistensi dalam pendidikannya sejak usia muda. Ia memilih mengikuti program akselerasi saat menempuh pendidikan di tingkat SMP dan SMA. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter umum pada tahun 2019, Isti sempat mengabdikan diri sebagai dokter umum sekaligus dosen di salah satu universitas negeri di Bengkulu.
Keputusan untuk melanjutkan studi ke jenjang spesialis didorong oleh minatnya yang mendalam pada bidang kesehatan anak dan kebutuhan akan tenaga spesialis anak di daerah asalnya. “Tahun 2022 saya melanjutkan studi pendidikan dokter spesialis Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM,” ujarnya, seperti dilansir dari laman UGM pada Sabtu (25/4/2026).
Selama menempuh pendidikan spesialis, Isti mengambil program double degree yang mengharuskannya menyelesaikan dua tesis. Kedua tesis tersebut memiliki fokus serupa, yakni di bidang neonatologi, khususnya terkait hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir.
Fokus pada Proses, Bukan Sekadar Target
Meskipun berhasil meraih gelar lulusan termuda, Isti mengaku tidak pernah menjadikan hal tersebut sebagai target utama. Baginya, fokus utama adalah menjalani setiap tahapan pendidikan dengan sebaik-baiknya sesuai alur yang telah ditetapkan.
“Saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan termuda di periode ini, dan dari awal juga tidak pernah menargetkan ke arah sana. Berusaha konsisten saja di tiap prosesnya. Jadi ketika akhirnya mendapat predikat tersebut tentu sangat bersyukur,” ungkapnya penuh rasa syukur.
Tantangan dan Dukungan dalam Pendidikan Spesialis
Perjalanan pendidikan spesialis tidak serta merta mulus. Isti harus beradaptasi dengan tuntutan akademik dan tanggung jawab klinis yang jauh lebih intensif dibandingkan jenjang sebelumnya. Perbedaan lingkungan dan budaya antara Bengkulu dan Yogyakarta di awal masa studinya juga menjadi tantangan tersendiri.
Namun, berbagai tantangan tersebut berhasil dilalui berkat dukungan kuat dari keluarga, teman sejawat, serta para supervisor. Dukungan ini menjadi faktor krusial yang membantunya melewati setiap rintangan.
Isti menekankan pentingnya menjaga konsistensi dan niat yang kuat sejak awal. Ia berpendapat bahwa pendidikan spesialis adalah sebuah proses panjang yang menuntut ketahanan mental dan tujuan yang jelas. Ia juga berpesan agar para calon dokter spesialis tidak perlu terburu-buru atau berambisi menjadi yang tercepat, melainkan fokus menjalani setiap tahap dengan maksimal.
“Keberadaan support system juga menjadi hal yang tidak kalah penting selama proses pendidikan,” tambahnya.
Menurut Isti, setiap mahasiswa dapat menikmati proses yang dijalani. Ia meyakini bahwa setiap tahapan pendidikan selalu memberikan pelajaran berharga, baik secara akademik maupun personal.
Menutup pernyataannya, Isti berharap para lulusan UGM ke depan tidak hanya unggul dalam keilmuan, tetapi juga memiliki integritas, empati, serta kepedulian terhadap masyarakat luas. “Semoga ilmu yang didapat bisa benar-benar bermanfaat dan memberikan dampak positif, dimanapun kita berada dan berkarya,” tutupnya dengan optimisme.
Ikuti Akses.co.id
