Akses.co.id — Pertengkaran antara kakak dan adik merupakan dinamika umum yang seringkali membuat orang tua kewalahan. Fenomena ini, baik pada anak balita maupun remaja, tergolong lumrah terjadi dalam keluarga. Sebuah penelitian bahkan mengindikasikan bahwa mayoritas anak pernah terlibat dalam agresi ringan dengan saudara kandungnya.
“Tingkat pertengkaran saudara yang ringan adalah bagian normal dari masa kanak-kanak, dan bahkan dapat berkontribusi pada proses perkembangan dan pematangan yang penting,” jelas psikolog anak di Johns Hopkins Children’s Center, dr. Jeff Garofano, PhD, mengutip Parents.
Dinamika Hubungan Kakak Beradik
Hubungan persaudaraan adalah salah satu ikatan terpanjang dalam kehidupan seseorang. Interaksi intens yang terjalin menjadi fondasi penting bagi kesejahteraan emosional, keterampilan sosial, dan kesehatan mental anak di masa depan. Intensitas kebersamaan ini kerap memunculkan persaingan di antara kakak dan adik.
“Masa kanak-kanak adalah masa ketika anak-anak perlu belajar bagaimana menghadapi berbagai bentuk konflik,” tutur Garofano.
Penyebab Pertengkaran Berdasarkan Usia
Alasan utama pertengkaran sangat bergantung pada fase usia anak. Anak balita umumnya bertengkar karena keengganan berbagi mainan atau tuntutan perhatian yang lebih besar. Sementara itu, anak usia sekolah dasar kerap meributkan soal keadilan atau pembagian peran di rumah. Adapun remaja cenderung berkonflik akibat pelanggaran privasi atau persaingan pencapaian.
Kapan Konflik Menjadi Berbahaya?
Meskipun dianggap wajar, orang tua perlu waspada jika konflik berubah menjadi kekerasan fisik atau pelecehan yang bertujuan untuk menyakiti dan mendominasi. “Pertengkaran saudara kandung bisa menjadi masalah jika ada pertengkaran fisik yang signifikan,” terang Garofano.
Tanda bahaya lainnya meliputi ketidakseimbangan kekuatan yang mencolok antara anak yang lebih besar dan yang lebih kecil, pertengkaran kronis yang tidak kunjung membaik, ancaman cedera, hingga perubahan drastis pada kondisi emosional anak yang tampak ketakutan atau menarik diri.
Dampak Psikologis Jangka Panjang
Pertengkaran yang terlalu sering dan terlampau parah tidak boleh dibiarkan, karena kondisi tersebut dapat merusak perkembangan mental anak secara permanen. Berbagai riset membuktikan bahwa perundungan antarsaudara berkaitan erat dengan penurunan harga diri, berkurangnya kepuasan hidup, serta berlipatgandanya risiko depresi di usia dewasa awal.
Strategi Bijak Mengatasi Pertengkaran
Untuk menghentikan siklus pertengkaran, orang tua perlu menerapkan strategi proaktif yang menumbuhkan kerja sama, bukan sekadar berperan sebagai wasit saat keributan terjadi. “Orang tua bisa memberi contoh jenis penyelesaian konflik yang bisa ditiru oleh anak-anak ketika sedang berkonflik dengan pasangan,” saran Garofano.
Selain itu, fokuslah untuk memuji interaksi positif mereka sehari-hari, bukan hanya menghukum perilaku buruk. Jika memungkinkan, ciptakan sistem penghargaan berbasis poin yang membutuhkan kerja sama tim antar-kakak dan adik agar mereka dapat memperoleh hadiah bersama.
“Strategi seperti ini melahirkan kerja sama. Semakin banyak kerja sama, semakin sedikit ruang untuk bertengkar. Pendekatan ini dapat dimodifikasi untuk digunakan dengan anak usia sekolah hingga remaja,” ujar Garofano.
Pastikan pula untuk selalu mendekati setiap konflik secara netral tanpa memihak, serta bimbing mereka untuk mulai mengomunikasikan perasaan secara mandiri.
Ikuti Akses.co.id
