— Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) secara resmi mengesahkan perubahan signifikan pada sistem penilaian pertandingan, beralih ke format 3×15 poin atau best of three games. Keputusan ini diambil dalam Sidang Umum Tahunan BWF ke-87 yang diselenggarakan di Horsens, Denmark, pada Sabtu (25/4/2026).

Perubahan ini disetujui melalui mekanisme pemungutan suara, dengan hasil 198 negara mendukung dan 43 negara menolak. Sistem skor baru 3×15 poin ini akan mulai berlaku efektif per 4 Januari 2027, menggantikan format 3×21 poin yang telah digunakan selama ini.

Sidang tahunan tersebut dibuka oleh Presiden BWF, Khunying Patama Leeswadtrakul, dan dihadiri oleh seluruh anggota federasi. Indonesia, melalui Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), diwakili oleh Wakil Sekretaris Jenderal Wino Sumarno dan Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri Bambang Roedyanto. Keduanya turut serta dalam forum strategis tersebut sebagai bagian dari keanggotaan aktif BWF.

Tujuan Perubahan Sistem Skor

Perubahan sistem skor menjadi salah satu agenda utama yang dibahas dalam Proposal Dewan BWF. Tujuan utama dari reformasi ini adalah untuk meningkatkan dinamika dan daya tarik pertandingan bulu tangkis di kancah global.

Sistem skor baru 3×15 poin tetap menggunakan penghitungan rally point. Pemberian jeda interval akan tetap diberlakukan ketika salah satu pemain mencapai delapan poin terlebih dahulu dalam satu gim. Namun, untuk kondisi deuce di poin 14-14, pertandingan akan berlanjut dengan syarat pemenang harus memiliki selisih dua poin, dengan batas maksimal poin per gim adalah 21.

Perubahan ini diprediksi akan memberikan keuntungan bagi pemain yang memiliki gaya bermain agresif dan cenderung menyerang sejak awal pertandingan. Sebaliknya, pemain dengan tipe permainan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk panas (lambat panas) mungkin akan kehilangan kesempatan untuk melakukan comeback karena batasan poin per gim yang lebih rendah.

PBSI Siapkan Antisipasi Aturan Baru

Menyikapi keputusan BWF, PBSI menyatakan akan segera melakukan kajian internal dan menyusun langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi penerapan aturan skor baru ini. Penyesuaian program pembinaan dan persiapan atlet menjadi prioritas utama menjelang era sistem skor baru.

“Kami akan mempelajari secara komprehensif dampak perubahan sistem skor ini terhadap pola permainan dan strategi atlet,” ujar Bambang Roedyanto dalam keterangan tertulis yang dirilis PBSI.

“PBSI berkomitmen untuk memastikan atlet Indonesia tetap kompetitif dan siap menghadapi implementasi kebijakan ini,” tambahnya.