— Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma memaparkan visi “Brebes Beres” yang berfokus pada tiga pilar utama: perbaikan birokrasi, penguatan ekonomi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Langkah ini diambil untuk mendorong transformasi daerah.

Visi yang diusung Paramitha ini mencakup tiga aspek kunci. Pertama, “Beres Birokrasinya” bertujuan untuk menghadirkan layanan publik yang cepat, transparan, dan digital melalui Mal Pelayanan Publik (MPP) serta penguatan platform Satu Data Brebes. Kedua, “Beres Ekonominya” akan fokus pada hilirisasi komoditas pertanian, khususnya bawang merah, serta digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas jangkauan pasar produk lokal hingga ke kancah internasional.

Aspek ketiga, “Beres SDM-nya”, menekankan pentingnya investasi pada sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri dan peningkatan literasi digital masyarakat.

“Kita tidak bisa lagi hanya bertumpu pada produksi bahan mentah. Brebes harus bergerak menuju hilirisasi agar petani memperoleh nilai tambah. Investasi terbesar kita bukan hanya pada infrastruktur, tetapi pada manusia Brebes itu sendiri,” ujar Paramitha dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (24/4/2026).

Pernyataan Bupati Paramitha ini disampaikan saat menjadi pembicara dalam diskusi panel Majelis Silaturahmi Warga Brebes (Masigab) yang bertajuk “Urun Rembug Brebes Beres untuk Indonesia yang Lebih Baik”. Acara tersebut diselenggarakan di Auditorium Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Jakarta Selatan, pada Minggu (19/4/2026).

Perantau Disebut sebagai Aset Strategis

Dalam forum Masigab, Bupati Paramitha menyoroti bahwa kemajuan Kabupaten Brebes tidak dapat hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) semata. Ia menekankan perlunya sinergi kolektif antara pemerintah daerah dan para perantau asal Brebes.

Paramitha secara khusus mengajak para perantau untuk turut berkontribusi membangun kampung halaman, baik melalui gagasan maupun investasi. Menurutnya, para perantau merupakan aset strategis yang memiliki jaringan luas dan pengalaman berharga untuk mempercepat inovasi di daerah.

Sementara itu, Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro, yang turut hadir dalam forum tersebut, mengamati bahwa warga Brebes memiliki karakter yang kritis.

“Orang Brebes itu wataknya kritis. Apa saja dikritik dulu, mau benar atau salah dikritik dulu. Namun, kita harus berprasangka baik bahwa itu adalah bentuk kepedulian. Sekarang, tidak ada pilihan lain selain kita semua harus support dan bareng-bareng membereskan Brebes,” ucap Juri.

Juri menambahkan bahwa untuk mengejar ketertinggalan dalam indeks pembangunan manusia (IPM), Pemerintah Kabupaten Brebes membutuhkan akselerasi. “Kalau kita lari, daerah lain juga lari. Maka, sekecil apa pun inisiatif kita, harus dilakukan sekarang untuk membantu percepatan perkembangan Brebes,” tegasnya.

Menindaklanjuti diskusi yang telah berlangsung, Pemerintah Kabupaten Brebes sepakat untuk menyusun peta jalan kolaborasi yang terukur. Selain itu, akan dibentuk forum komunikasi berkelanjutan antara pemda dan perantau, serta diinisiasi program-program nyata yang langsung menyentuh masyarakat.