Akses.co.id — Peluncuran buku “Kampus Meretas Batas” di Cikarang pada Rabu, 22 April 2026, menandai pendokumentasian pengembangan model pendidikan tinggi yang terintegrasi erat dengan kebutuhan kawasan industri. Buku yang diterbitkan bersama Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ini menyajikan catatan mendalam mengenai penerapan visi dan praktik pendidikan yang dirancang untuk memenuhi standar global selama dua dekade terakhir.
Melalui 18 bab, karya ini membedah konsep pendidikan yang dirancang untuk menjawab tuntutan dunia kerja serta pembentukan karakter sebagai pilar utama. Penulis, Satrijo Tanudjojo, menyusun narasi berdasarkan kegelisahan intelektualnya terhadap sistem pendidikan tinggi yang dinilai kerap terputus dari realitas industri.
“Berani untuk berbeda, berani untuk menembus batas, itulah semangat yang ingin saya tangkap,” ungkap Satrijo secara daring dari Paris dalam sesi peluncuran buku. Ia menekankan pentingnya memahami sejarah sebuah organisasi untuk membentuk identitas dan mengarahkan masa depan. “Dari titik itulah buku Kampus Meretas Batas lahir, bukan sekadar dokumentasi, tetapi sebagai upaya membangun konteks,” ujarnya.
Akar Sejarah dan Respon Terhadap Industri
Isi buku ini merekam jejak historis yang dimulai dari keresahan pada tahun 1994. Pada masa itu, pertumbuhan pesat kawasan industri di Indonesia tidak diimbangi oleh ketersediaan tenaga kerja terampil dari model pendidikan tinggi yang ada.
Setyono Djuandi Darmono, pendiri President University yang idenya menjadi ruh dalam buku ini, menceritakan latar belakang tersebut. “Berangkat dari kebutuhan kawasan industri akan tenaga kerja terampil, saya menyadari bahwa pendidikan tinggi di Indonesia saat itu belum sepenuhnya menjawab tuntutan dunia industri,” ujar Darmono.
Meski sempat terhambat krisis moneter pada 1998, Darmono tetap yakin pada visinya. “Saya berpikir, jika industri belum siap datang, maka pendidikanlah yang harus lebih dulu bergerak,” tegasnya.
Darmono mengaku terharu membaca karya ini karena dinilainya berhasil menangkap esensi perjuangannya dalam menciptakan lulusan yang siap pakai. “Tanpa memahami sejarah, mustahil merumuskan masa depan. Dan membaca 18 bab buku ini, saya merasa terharu. Betapa tidak, mimpi saya dan kawan-kawan mendirikan institusi pendidikan tinggi yang lulusannya relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan memiliki good character mampu ditangkap dengan baik,” pungkasnya.
Kekuatan Literasi dan Daya Tarik Global
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Pendidikan, Prof. M. Syafi’i Anwar, menilai kekuatan literasi buku ini terletak pada kemampuannya menggambarkan lembaga pendidikan sebagai entitas pembentuk karakter yang unik. “Narasi dalam buku ini berhasil menampilkan keunikan dan keunggulan komparatif President University sebagai universitas internasional yang berakar di Indonesia,” kata Syafi’i.
Menurutnya, buku ini membuka ruang ekspansi intelektual lintas budaya, yang dibuktikan dengan rencana penerjemahan buku ke bahasa Mandarin. “Rencana penerjemahan ke bahasa Mandarin jadi bukti bahwa kisah ini tak hanya relevan secara lokal, tapi juga punya daya tarik global, sejalan dengan visi universitas itu sendiri,” tambahnya.
Prof. Syafi’i berharap, buku “Kampus Meretas Batas” dapat menjadi salah satu kompas sejarah untuk menegaskan komitmen dalam melampaui batas pendidikan, inovasi, maupun dalam menjawab tantangan global.
Ikuti Akses.co.id
