— PALEMBANG, KOMPAS.com – Meskipun ikan sapu-sapu kerap menjadi sorotan sebagai ikan invasif, di perairan Sungai Sumatera Selatan, ancaman sesungguhnya justru datang dari jenis ikan lain yang memiliki nilai ekonomi. Ikan seperti nila, mujair, dan lele justru dinilai lebih berbahaya bagi kelestarian ekosistem lokal.

Koordinator Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Palembang, Robiyanto Tanum, menjelaskan bahwa penyebaran ikan-ikan yang dianggap memiliki nilai ekonomi ini secara terus-menerus ke perairan umum justru mengancam populasi ikan asli Sumatera Selatan. Ikan-ikan lokal seperti betok, juaro, sepat, sembilang, baung, tembakang, hingga belido kini terancam keberadaannya.

“Karena dianggap ikan lokal dan bernilai ekonomi, ikan-ikan itu terus ditebar ke perairan umum. Padahal, termasuk jenis ikan invasif,” ujar Robiyanto, Jumat (24/4/2026).

Sifat ikan invasif yang cepat beradaptasi, berkembang biak dengan pesat, dan rakus makanan membuat mereka mampu mendominasi habitat. Lebih lanjut, ikan-ikan ini berpotensi menghabiskan stok makanan ikan asli, bahkan memakan telur dan anak ikan.

Namun, masyarakat umumnya tidak menganggap keberadaan ikan-ikan ini sebagai ancaman karena nilai ekonomis yang dimilikinya. Robiyanto menduga ikan-ikan ini telah lama dilepas ke perairan Sungai Sumsel, sehingga masyarakat menganggapnya sebagai ikan lokal. Ditambah lagi, informasi mengenai ikan invasif belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat.

“Ikan tersebut kemungkinan didatangkan sejak lama ke perairan sungai Sumsel sehingga lambat laun masyarakat mengira adalah ikan lokal. Di sisi lain, informasi mengenai ikan invasif tidak diketahui masyarakat secara utuh,” tuturnya.

Upaya Sosialisasi dan Budidaya Ikan Asli

Untuk mengatasi ancaman ini, PSDKP Palembang gencar melakukan sosialisasi kepada warga, kelompok masyarakat, dan berbagai instansi mengenai status dan bahaya ikan invasif. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat.

Selain itu, PSDKP juga mendorong masyarakat dan pemerintah daerah untuk memprioritaskan budidaya dan restocking ikan asli Sumatera Selatan, seperti tembakang dan sembilang. Langkah ini penting untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem perairan.

“Ancaman terhadap ekosistem sungai tidak hanya datang dari ikan invasif. Tetapi, kerusakan lingkungan turut memperparah kondisi, mulai dari pencemaran limbah hingga aktivitas penangkapan ikan yang merusak seperti penggunaan setrum dan racun,” ungkapnya.

Ikan Aligator Menjadi Perhatian di OKU

Di sisi lain, PSDKP Palembang juga menerima laporan adanya ikan aligator di perairan Sungai Ogan, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Ikan aligator tersebut kemudian diburu dan dimusnahkan karena pelepasan oleh pemiliknya mengancam habitat ikan asli.

Meskipun demikian, keberadaan ikan aligator belum terdeteksi di Sungai Musi. “Di Sungai Musi di Palembang, kami belum dapat info mengenai keberadaan ikan aligator,” jelas Robiyanto.