JAKARTA, KOMPAS.com – Pasar properti mewah di Ibu Kota menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah gejolak ekonomi. Fenomena ini terpantul pada proyek apartemen Savyavasa di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, yang mencatat angka penjualan impresif. Dari total 402 unit yang ditawarkan sejak 2022, kini hanya tersisa 30 persen unit yang belum terjual.
Unit-unit apartemen yang dibanderol mulai dari Rp 8,5 miliar (di luar Pajak Pertambahan Nilai) hingga Rp 19,5 miliar ini berlokasi di Tower II dan III. Luasan unit yang ditawarkan bervariasi, mulai dari 133 meter persegi hingga 260 meter persegi.
Penyerapan pasar yang cepat ini mengindikasikan bahwa bagi kalangan individu berpenghasilan tinggi atau high-net-worth individuals (HNWI), properti di lokasi strategis dengan nilai historis dan kelangkaan tinggi masih menjadi pilihan utama sebagai instrumen penyelamat nilai aset.
Dharmawangsa, Kawasan Prestisius dengan Karakter Unik
Keberhasilan penjualan Savyavasa tidak terlepas dari lokasinya yang berada di Dharmawangsa. Kawasan ini, yang merupakan bagian dari rencana besar Garden City Kebayoran Baru sejak tahun 1948, telah berkembang menjadi salah satu area hunian paling prestisius di Jakarta. Berbeda dengan kawasan pusat bisnis (CBD) yang padat dengan gedung perkantoran, Dharmawangsa justru mempertahankan karakter kepadatan rendah dengan dominasi ruang hijau.
Chief Operating Officer PT Jakarta Setiabudi International Tbk, Bram Van Hoof, menjelaskan bahwa Savyavasa memiliki posisi unik sebagai satu-satunya hunian mewah yang telah rampung sepenuhnya di kawasan tersebut. “Kami mendedikasikan lebih dari 70 persen dari total lahan seluas 2,8 hektar sebagai ruang terbuka hijau. Di tengah kawasan dengan ketersediaan lahan yang sangat terbatas, Savyavasa menghadirkan aset nyata yang nilainya akan terus terjaga di berbagai siklus ekonomi,” ujar Bram kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Analisis pasar menunjukkan bahwa kelangkaan menjadi faktor utama pendorong permintaan apartemen mewah di Jakarta Selatan. Laporan dari Colliers International mencatat pasokan unit apartemen baru di lokasi premium seperti Dharmawangsa sangat terbatas dalam beberapa tahun terakhir. Keterbatasan lahan ini secara otomatis mendongkrak harga tanah dan nilai unit yang sudah ada.
Hingga kuartal pertama 2026, sektor properti mewah menunjukkan performa yang lebih tangguh dibandingkan segmen menengah. Meskipun harga sewa apartemen secara umum di Jakarta mengalami tekanan akibat banyaknya pasokan, unit di lokasi spesifik seperti Dharmawangsa justru mengalami peningkatan minat dari kalangan diplomat dan ekspatriat senior.
Perubahan regulasi kepemilikan properti bagi warga negara asing yang kini lebih sederhana turut menjadi faktor pendukung. Hal ini menarik minat investor regional yang mencari diversifikasi aset di Asia Tenggara.
Profil Pembeli Didominasi Pengguna Akhir
Salah satu temuan menarik dari operasional Savyavasa adalah profil pembelinya yang didominasi oleh pengguna akhir (end-user) hingga mencapai 90 persen. Angka ini berbeda signifikan dengan tren satu dekade lalu yang lebih banyak digerakkan oleh spekulan atau investor jangka pendek.
Dominasi end-user memberikan stabilitas pada sebuah proyek hunian. Kehadiran pemilik unit yang benar-benar tinggal di sana akan membentuk ekosistem komunitas secara alami. Hal ini berdampak positif pada terjaganya kualitas pemeliharaan bangunan dan nilai sewa di masa depan.
Head of PT Swire Investment Indonesia, Ainsley Mann, mengungkapkan bahwa keputusan membeli hunian mewah saat ini lebih didorong oleh pertimbangan emosional dan jangka panjang. “Sebuah proyek yang telah sepenuhnya siap dihuni di kawasan seperti Dharmawangsa memiliki posisi yang sangat kuat, baik dari sisi hunian maupun sebagai aset jangka panjang. Pembeli melihat ini sebagai warisan tengaran yang sulit direplikasi oleh pengembang lain,” tutur Ainsley.






