Jakarta – Mitos bahwa berdiri saat bekerja lebih baik daripada duduk terlalu lama ternyata perlu diluruskan. Para ahli kesehatan kerja menilai, fokus pada pilihan posisi tubuh semata kurang tepat. Penelitian terbaru justru mengungkap, baik duduk maupun berdiri dalam durasi panjang sama-sama berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan.
Laporan dari ScienceAlert pada 23 April 2026, merujuk pada kajian para ahli kesehatan kerja, menegaskan bahwa isu kesehatan kerja bukanlah sekadar memilih antara duduk atau berdiri.
Risiko Duduk dan Berdiri Berlebihan
Selama ini, duduk dalam waktu lama kerap dicap sebagai kebiasaan yang mengancam kesehatan. Namun, anggapan bahwa berdiri adalah solusi sepenuhnya aman ternyata keliru. Profesi yang menuntut posisi berdiri berjam-jam, seperti tenaga medis, guru, maupun pelayan restoran, juga menghadapi berbagai risiko kesehatan.
Kondisi tersebut dapat memicu masalah kesehatan, terutama yang berkaitan dengan otot dan persendian. Tekanan berlebih pada otot dan tulang belakang, serta potensi masalah sirkulasi darah, menjadi beberapa di antaranya.
[video.1]Posisi Tubuh dan Dampaknya
Ahli kesehatan kerja menjelaskan, tubuh manusia secara fundamental tidak dirancang untuk bertahan dalam satu posisi statis dalam jangka waktu yang lama. Baik itu duduk maupun berdiri, keduanya memiliki konsekuensi kesehatan yang berbeda namun sama-sama perlu diwaspadai.
Duduk terlalu lama dapat berujung pada nyeri pada punggung bagian bawah, leher, dan bahu. Sementara itu, posisi berdiri yang berkepanjangan berisiko menimbulkan kelelahan ekstrem, nyeri punggung, serta memberikan tekanan berlebih pada area kaki dan lutut.
Peran Kaki yang Sering Terlupakan
Dalam diskusi mengenai kesehatan kerja, perhatian kerap tertuju pada area punggung. Padahal, kaki memegang peranan krusial sebagai fondasi dan penopang utama seluruh tubuh. Tekanan konstan pada area kaki dapat secara signifikan memengaruhi keseimbangan tubuh secara keseluruhan.
Penelitian menunjukkan bahwa berdiri seharian penuh dapat memicu perubahan postur tubuh yang tidak ideal dan menimbulkan rasa tidak nyaman pada kaki serta punggung bagian bawah. Ini menggarisbawahi pentingnya memperhatikan kesehatan kaki secara proporsional.
Kunci Utama: Bergerak dan Berganti Posisi
Para pakar menekankan, inti dari kesehatan kerja bukanlah pada pilihan antara meja duduk atau meja berdiri. Yang jauh lebih esensial adalah seberapa lama seseorang bertahan dalam satu posisi tersebut tanpa adanya variasi gerakan.
“Tubuh manusia membutuhkan variasi gerakan sepanjang hari. Berganti posisi secara berkala dinilai lebih sehat dibanding mempertahankan satu posisi terus-menerus,” ujar seorang ahli kesehatan kerja, dikutip dari laporan tersebut.
Adaptasi Rutinitas Kerja yang Sederhana
Untuk menjaga kesehatan optimal di tempat kerja, para ahli menyarankan penerapan langkah-langkah sederhana. Istirahat singkat yang dilakukan secara rutin dapat membantu meredakan tekanan yang dialami tubuh.
Selain itu, pengaturan posisi kerja yang ergonomis, penggunaan alas kaki yang nyaman, serta penyisipan aktivitas fisik ringan menjadi komponen penting. Pendekatan holistik ini dinilai lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan fasilitas seperti meja berdiri atau kursi ergonomis semata.
Pada dasarnya, duduk dan berdiri tidak serta-merta berbahaya jika dilakukan secara seimbang. Risiko kesehatan justru muncul ketika tubuh dipaksa berada dalam satu posisi statis terlalu lama tanpa adanya pergerakan.
Oleh karena itu, menjaga variasi gerakan sepanjang hari merupakan kunci utama untuk memastikan kesehatan dan kesejahteraan saat bekerja.




