Lestari

BSSN: Serangan Siber Naik 7 Kali Lipat pada 2025 dan Berlanjut di Awal 2026

Advertisement

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lonjakan signifikan serangan siber di Indonesia dalam dua tahun terakhir, dengan proyeksi peningkatan hingga tujuh kali lipat pada tahun 2025. Pemerintah menilai bahwa pola serangan kini semakin canggih dan banyak memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), sehingga metode pertahanan konvensional dinilai tidak lagi memadai.

Berdasarkan data BSSN, jumlah serangan siber sepanjang 2025 mencapai 5,5 miliar. Angka ini melonjak 714 persen dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020-2024. Tren peningkatan ini berlanjut hingga awal 2026. Selama periode 1 Januari hingga 15 April 2026, tercatat 1,52 miliar serangan siber.

Ancaman Siber Makin Adaptif

Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Mayjen TNI Bondan Widiawan, menjelaskan bahwa sebagian besar serangan masih didominasi oleh malicious software atau malware. Malware saat ini semakin adaptif dan sulit dikenali oleh sistem keamanan lama.

Menurut Bondan, pola serangan saat ini sudah berbasis perilaku (behavior based attack). Sementara itu, banyak sistem pertahanan yang masih mengandalkan pendekatan manual seperti endpoint detection and response (EDR) maupun extended detection and response (XDR).

“Enggak mungkin bisa menangkap behavior-nya. Begitu malware teridentifikasi dia langsung berubah wajah. Melakukan mutasi-mutasi,” ujar Bondan dalam forum Shaping Secure Data Intelligence for Digital Resilience, Kamis (23/4/2026).

AI Menjadi Senjata Baru Penyerang

Bondan menilai kecerdasan buatan (AI) berperan penting dalam meningkatkan kemampuan serangan siber. Oleh karena itu, pendekatan pertahanan juga harus berubah dengan memanfaatkan teknologi serupa.

Ia menegaskan bahwa serangan berbasis AI tidak dapat dilawan hanya dengan sistem keamanan lama yang mengandalkan daftar ancaman yang sudah dikenal.

Senada dengan pandangan BSSN, General Manager Virtus, Wisnu Nursahid, mengatakan lonjakan serangan siber sepanjang 2025 hingga kuartal I 2026 diduga juga berkaitan dengan pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan digital.

Meskipun demikian, menurut Wisnu, hingga kini belum ada data pasti mengenai proporsi serangan siber yang sepenuhnya menggunakan AI. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, diperlukan integrasi data dari threat intelligence platforms (TIP) yang memiliki kemampuan mengumpulkan dan menganalisis ancaman siber secara komprehensif.

Advertisement

“Jangan-jangan populasinya sekarang itu sudah cukup masif. Nah, data secara pasti kami belum mendapatkan juga,” kata Wisnu.

Perusahaan Perlu Perkuat SDM dan Teknologi

Wisnu menambahkan, ancaman siber berbasis AI kini sudah nyata sehingga perusahaan dan organisasi perlu meningkatkan kesiapan mereka.

Ia menyebut bahwa sekitar 40 persen keberhasilan ketahanan siber ditentukan oleh faktor sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, pemahaman pegawai terhadap risiko digital dan pemanfaatan AI perlu terus diperkuat.

Selain SDM, organisasi juga perlu membangun pusat operasi keamanan (security operation center atau SOC) yang terintegrasi.

Tiga Komponen Keamanan yang Perlu Diperkuat

Menurut Wisnu, terdapat tiga komponen utama yang perlu diperkuat dalam menghadapi ancaman siber:

  1. Keamanan Titik Akhir (Endpoint Security): Untuk melindungi perangkat seperti laptop, ponsel, server, dan komputer.
  2. Network Detection and Response (NDR): Sistem pemantauan lalu lintas jaringan untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan secara real time.
  3. Integrasi SIEM dan SOAR: Integrasi Security Information and Event Management (SIEM) dan Security Orchestration, Automation, and Response (SOAR), yang berfungsi menganalisis log ancaman dan mempercepat respons insiden.

“Hampir semua vendor keamanan siber sekarang sudah menyisipkan AI. Ketiga komponen itu mau enggak mau harus terintegrasi penuh,” ujar Wisnu.

Ia menambahkan, jika belum sepenuhnya berbasis AI, setidaknya perusahaan harus memastikan seluruh sistem keamanan digital telah saling terhubung agar respons terhadap serangan bisa lebih cepat dan efektif.

Advertisement