Lestari

BRIN Temukan Subspesies Baru Buah Bisbul Asli Papua

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim kolaboratornya berhasil mengidentifikasi subspesies baru dari buah bisbul, yang secara ilmiah dikenal sebagai Diospyros blancoi. Penemuan ini menambah catatan keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya di wilayah Papua.

Irvan Fadli Wanda, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menjelaskan bahwa bisbul asli Papua ini menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan populasi yang ditemukan di Filipina. Studi mendalam yang dilakukan tim peneliti mencakup analisis variasi morfologi dan hubungan kekerabatan genetik dari tanaman buah tropis tersebut.

Dalam penelitiannya, tim menganalisis 93 karakter morfologi, meliputi 53 karakter vegetatif dan 40 karakter generatif. Hasil analisis tersebut mengungkapkan adanya perbedaan mencolok pada 32 karakter, terutama pada bagian buah dan biji. Perbedaan inilah yang menjadi kunci utama dalam membedakan populasi bisbul dari Papua dengan yang ada di Filipina.

“Subspesies dari Papua memiliki jumlah biji lebih banyak, berkisar lima hingga 10 biji per buah, dengan bentuk biji menyerupai irisan, serta kepadatan rambut pada permukaan buah yang lebih rendah dibandingkan dengan populasi dari Filipina,” kata Irvan dalam keterangan resminya, Kamis (23/4/2026).

Selain analisis morfologi, tim peneliti juga mengombinasikannya dengan pendekatan molekuler menggunakan penanda DNA gen matK dan psbA-trnH. Pendekatan ini memberikan bukti tambahan yang kuat mengenai perbedaan genetik antara populasi bisbul dari Papua dengan populasi lainnya.

Irvan menambahkan, hasil analisis filogenetik secara jelas memperlihatkan bahwa populasi bisbul dari Papua membentuk kelompok tersendiri yang berbeda secara genetik. Hal ini semakin memperkuat penetapan temuan tersebut sebagai subspesies baru.

“Pendekatan kombinasi antara morfologi dan data molekuler memberikan bukti yang kuat bahwa populasi dari Papua memiliki jalur evolusi yang berbeda, sehingga layak ditetapkan sebagai subspesies baru,” papar dia.

Advertisement

Menariknya, spesimen yang menjadi bagian dari kajian ini merupakan koleksi dari Kebun Raya Bogor. Keberadaan spesimen di kebun raya tersebut menegaskan peran pentingnya sebagai pusat konservasi tumbuhan dan sumber data ilmiah untuk penelitian biodiversitas di Indonesia.

Buah bisbul sendiri merupakan tanaman buah tropis yang memiliki nilai ekonomi dan khasiat dalam pengobatan tradisional. Spesies ini umumnya tersebar di Filipina dan beberapa wilayah Asia Tenggara, namun keberadaannya di Papua belum tercatat secara resmi sebelum penelitian ini.

Temuan ini menjadi catatan baru yang penting mengenai persebaran Diospyros blancoi di kawasan Malesia, khususnya di Pulau Papua. Penelitian juga mengindikasikan bahwa variasi morfologi pada tanaman bisbul dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti intensitas cahaya dan kondisi habitat, serta faktor genetik yang mengatur karakter reproduktif yang cenderung lebih stabil.

Penemuan subspesies baru ini menegaskan kembali pentingnya integrasi antara pendekatan morfologi dan molekuler dalam kajian taksonomi. Hasil studi ini diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati di dalam negeri secara berkelanjutan.

Ke depannya, BRIN berkomitmen untuk terus mendorong penelitian biosistematika dan eksplorasi biodiversitas. Langkah ini bertujuan untuk mengungkap potensi sumber daya hayati yang belum terdokumentasi serta memperkuat landasan ilmiah bagi upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Advertisement