Akses.co.id — JAKARTA, CNN Indonesia — Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perombakan pada sejumlah indeks saham utama untuk periode Mei hingga Juli 2026, yang berujung pada terdepaknya beberapa emiten dari indeks LQ45. Saham-saham seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dipastikan tidak lagi masuk dalam daftar LQ45. Perubahan ini diprediksi akan memicu tekanan jual dalam jangka pendek akibat penyesuaian portofolio oleh investor institusi pasif.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memprediksi saham-saham yang keluar dari indeks LQ45 akan mengalami tekanan jual yang wajar. Hal ini terutama disebabkan oleh aliran dana dari investor institusi pasif yang harus melakukan rebalancing portofolio agar sesuai dengan komposisi indeks terbaru.
“Efek outflow dana index sih. Kalau outflow sih pasti ada emiten yang keluar seperti BREN, CTRA, DSSA, HEAL, NCKL. Tentunya ini mengalami tekanan jual wajar,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Sabtu malam (25/4/2026).
Senada dengan Nafan, pengamat pasar modal Reydi Octa, menilai bahwa tekanan terhadap saham-saham tersebut kemungkinan akan terus berlanjut. Selain karena dikeluarkan dari indeks BEI, beberapa saham seperti BREN dan DSSA juga berpotensi tersingkir dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Reydi menjelaskan bahwa pergerakan harga saham-saham ini diprediksi akan tetap volatil dengan kecenderungan melemah. Hal ini disebabkan oleh hilangnya permintaan dari dana pasif yang sebelumnya mengikuti komposisi indeks.
“Tekanannya masih dominan. Selama resiko keluar dari MSCI dan indeks BEI belum selesai, arah harga cenderung volatile cenderung turun karena hilangnya demand dari dana pasif,” ujar Reydi kepada Kompas.com.
Faktor High Shareholders Concentration (HSC)
Salah satu faktor yang memperburuk kondisi saham-saham ini adalah status high shareholders concentration (HSC). Kondisi ini membuat saham menjadi kurang menarik bagi investor institusi karena likuiditas yang tipis dan potensi pergerakan harga yang mudah digerakkan.
“Status HSC membuat saham jadi kurang investable, likuiditas tipis, dan mudah digerakkan. Investor institusi cenderung menghindari, sehingga volatilitas makin tinggi,” papar Reydi.
Menurut Reydi, struktur kepemilikan yang terkonsentrasi dengan free float kecil berpotensi memicu pergerakan harga ekstrem. Ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan dapat menyebabkan gap price yang signifikan, baik saat naik maupun turun.
Untuk memperbaiki kondisi ini, emiten disarankan untuk meningkatkan free float, memperbaiki distribusi saham, serta meningkatkan transparansi. Langkah-langkah ini penting agar saham tersebut kembali dilirik oleh indeks global.
“Menambah free float, perbaiki distribusi saham, dan tingkatkan transparansi. Tanpa itu, sulit saham ini di lirik indeks global,” tukas Reydi.
Saran untuk Investor Ritel
Bagi investor ritel yang sudah memiliki posisi di saham-saham tersebut, Reydi menyarankan untuk berhati-hati. Aksi jual sebagian saat terjadi technical rebound bisa menjadi pilihan bijak, mengingat risiko penurunan masih terbuka selama isu indeks belum terselesaikan.
Strategi averaging down atau membeli lebih banyak saat harga turun dinilai tidak disarankan dalam kondisi saat ini. Pada saham dengan likuiditas terbatas, langkah tersebut justru berpotensi memperbesar risiko kerugian.
Reydi merekomendasikan investor ritel yang belum masuk untuk bersikap wait and see. Keputusan untuk berinvestasi sebaiknya diambil jika terdapat katalis yang jelas, seperti perbaikan free float, keluar dari status HSC, atau konfirmasi kembali masuk ke dalam indeks. Tanpa faktor-faktor tersebut, profil risk-reward dinilai masih kurang menarik.
“Sebaiknya wait and see. Masuk hanya jika ada katalis jelas seperti perbaikan free float, keluar dari status HSC, atau konfirmasi kembali masuk indeks. Tanpa itu, risk-reward masih tidak menarik,” katanya.
Ikuti Akses.co.id
