— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengidentifikasi kawasan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, sebagai salah satu wilayah yang berpotensi tinggi mengalami kekeringan saat musim kemarau. Prediksi musim kemarau 2026, yang diperkirakan berlangsung antara akhir April hingga Oktober akibat fenomena El Nino, menjadi perhatian utama.

Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menyatakan bahwa meskipun tingkat kekeringan mungkin tidak seekstrim yang dibayangkan, ancaman tersebut tetap ada, khususnya di Kelurahan Cipedak.

“Sebetulnya kasatgasnya sudah menginformasikan terlalu (kekeringan) se-ekstrim yang dibayangkan. Tapi ada, itu di kelurahan Cipedak, Jagakarsa,” ujar Yohan dalam keterangannya pada Jumat (24/4/2026).

Yohan menjelaskan bahwa kekeringan di wilayah tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor alam, terutama hilangnya sumber air baku di dalam tanah.

“Ketika sumber baku air tanahnya itu hilang, sehingga kekeringan, sehingga ini mengakibatkan kurang air bersih. Ini ada di Kelurahan Cipedak, Jagakarsa,” kata dia.

Berkaca dari Pengalaman Sebelumnya

BPBD DKI Jakarta merujuk pada kejadian kekeringan yang paling terasa dampaknya pada periode 2023 hingga 2024. Saat itu, beberapa area di Cipedak mengalami dampak yang signifikan.

Wilayah yang terdampak meliputi beberapa RW yang mencakup RT 014, RT 01, dan RT 013. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Lenteng Agung, tepatnya di RW 8 yang meliputi RT 3, RT 4, dan RT 7.

“Kalau dilihat pada tahun 2023, ekstremnya di 2023 ya, kejadian trending 2023-2024. Tapi kita antisipasi di 2026, jangan sampai kejadian (kekeringan),” ujar Yohan.

Faktor Geologi Menjadi Penyebab Utama

Lebih lanjut, Yohan menguraikan bahwa kondisi geografis dan lapisan tanah menjadi faktor krusial yang mempersulit warga mendapatkan akses air bersih saat musim kemarau.

Menurutnya, sumber air tanah di Cipedak berada pada lapisan yang dalam dan terhalang oleh lapisan batuan.

“Ketika airnya itu lebih rendah dari lapisan batuan itu tadi, otomatis akan susah untuk mendapatkan air bersih, apalagi saat kemarau ketika suplai airnya berkurang,” jelasnya.

Saat kejadian kekeringan pada tahun 2023, BPBD bersama PAM Jaya mengandalkan distribusi air bersih melalui mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan warga. Namun, Yohan menekankan bahwa ketergantungan pada mobil tangki bukanlah solusi jangka panjang.

Oleh karena itu, BPBD mendorong penyediaan tandon air di wilayah yang rawan kekeringan.

“Nah sekarang itu harusnya ada tandon air, jadi warga tidak hanya bisa mengambil air saat mobil tangki datang. Tandon bisa dipakai untuk suplai air ke situ,” ujarnya.

Langkah ini dianggap penting untuk memastikan warga memiliki cadangan air dan tidak sepenuhnya bergantung pada distribusi darurat ketika musim kemarau tiba.