— TASIKMALAYA, KOMPAS.com – DK (12), seorang siswa sekolah dasar asal Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, meninggal dunia pada Rabu (22/4/2026) setelah 25 hari menjalani perawatan intensif akibat dipatuk ular weling. Korban pertama kali mendapatkan penanganan medis di RSUD KHZ Mustofa, Singaparna, sebelum akhirnya dirujuk ke sebuah rumah sakit swasta di Bandung.

Camat Padakembang, Dadan Ramdani, mengonfirmasi bahwa korban telah berjuang melawan bisa ular tersebut selama hampir satu bulan. “Korban telah menjalani perawatan intensif di Bandung selama 25 hari dan nyawanya tidak bisa diselamatkan hingga meninggal dunia,” ujar Dadan kepada Kompas.com pada Kamis (23/4/2026). Jenazah DK kemudian dibawa kembali ke kampung halamannya dan dimakamkan pada Rabu malam.

Permintaan Terakhir Sang Anak

Andis Kuswara, ayah kandung DK, menceritakan bahwa beberapa hari sebelum meninggal, anaknya sempat mengungkapkan keinginan untuk pulang ke Tasikmalaya. Namun, orang tuanya hanya bisa menjawab bahwa kepulangan itu bisa terlaksana setelah DK sembuh total.

Selama menjalani perawatan di rumah sakit swasta di Bandung, DK membutuhkan bantuan alat pernapasan. “Perawatan intensif di RS swasta, korban menggunakan alat bantu pernapasan atau oksigen selama dirawat dan sempat ada harapan akan sembuh. Tapi, Rabu (22/4/2026) pagi, malah drop dan langsung meninggal,” ungkap Andis.

Terjaga dari Tidur Akibat Patukan Ular

Peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu malam, 29 Maret 2026, saat DK sedang tertidur pulas di lantai tengah rumahnya bersama sang ayah. Menurut kesaksian Andis, DK sempat mengira ular yang melilit tubuhnya adalah mainan. “Saat itu, anaknya mengaku ular berbisa yang melilit di bagian tubuhnya dikira mainan dan saat terbangun langsung dipegang,” tuturnya.

Tak lama kemudian, ular tersebut mematuk tangan DK hingga ia merasakan kesakitan. Keesokan harinya, kondisi fisik DK masih terlihat normal. Namun, Andis memutuskan untuk membawa anaknya ke tabib kampung. “Saya keesokan harinya langsung membawa anak ke tabib kampung untuk diobati. Sampai akhirnya yang akan mengobatinya itu bilang tak sanggup dan disarankan langsung dibawa ke rumah sakit segera,” kata Andis saat ditemui di RSUD pada Selasa (31/3/2026).

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, DK mulai mengeluhkan rasa sakit di badannya. Setibanya di RSUD KHZ Mustofa, Tasikmalaya, kondisi DK memburuk dengan gejala sesak napas dan nyeri tenggorokan, hingga akhirnya pingsan. Ia segera mendapatkan penanganan medis dan dimasukkan ke Ruang ICU.