Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Sumatera Utara. Gelombang diperkirakan mencapai ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter dan berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran, terutama bagi nelayan dan kapal kecil, selama periode 23 hingga 26 April 2026.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan, Rizky Ramadhan, merinci wilayah perairan yang perlu diwaspadai. Daerah tersebut meliputi Perairan timur Kepulauan Nias, Perairan barat Kepulauan Batu, Perairan barat Kepulauan Nias, serta Samudera Hindia di sebelah barat Kepulauan Nias.
“Rata-rata gelombang dapat mencapai 1,25 hingga 2,5 meter. Kondisi ini harus diwaspadai karena dapat mengganggu pelayaran,” ujar Rizky, mengutip informasi dari Antara. Ketinggian gelombang yang tergolong sedang hingga tinggi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh pengguna transportasi laut.
Analisis Dinamika Atmosfer Pemicu Gelombang Tinggi
BMKG menjelaskan bahwa dinamika atmosfer yang kompleks menjadi penyebab utama potensi gelombang tinggi ini. Pola angin di wilayah Indonesia turut berperan dalam memengaruhi ketinggian gelombang.
Di bagian utara Indonesia, angin diperkirakan bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan 5 hingga 20 knot. Sementara itu, di wilayah selatan Indonesia, angin bertiup dari timur laut hingga tenggara dengan kecepatan antara 5 hingga 25 knot. Perbedaan arah dan kecepatan angin ini menjadi salah satu faktor yang memicu terbentuknya gelombang.
Faktor-faktor Pemicu Lainnya
Tim Sistem Peringatan Dini BBMKG Wilayah I mengidentifikasi beberapa faktor lain yang berkontribusi terhadap terjadinya gelombang tinggi. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang melintasi sebagian wilayah Sumatera disebut sebagai salah satu pemicu utama.
Selain itu, perlambatan angin dan pemanasan permukaan yang cukup kuat pada siang hari turut mendukung pembentukan awan konvektif. Adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia bagian barat Aceh juga memperparah kondisi dengan memicu:
- Daerah pertemuan angin (konvergensi)
- Daerah pertemuan arus angin (konfluensi)
Kedua fenomena ini secara signifikan meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan di wilayah yang terdampak.
Prediksi Cuaca Seminggu ke Depan
Dalam sepekan mendatang, BMKG memprediksi kondisi cuaca di Sumatera Utara masih akan dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, baik dalam skala regional maupun lokal. Hal ini berpotensi meningkatkan curah hujan di wilayah tersebut.
“Kondisi ini berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan,” kata Rizky. Belokan angin yang membentuk daerah konvergensi dan konfluensi diperkirakan akan terus mendukung pertumbuhan awan hujan.
Di tingkat lokal, labilitas atmosfer di Sumatera Utara terpantau cukup kuat, yang memperbesar peluang terbentuknya awan konvektif. Awan konvektif ini dapat memicu hujan yang disertai dengan angin kencang.






