— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan melanda seluruh wilayah provinsi tersebut. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir.

Kasi Observasi, Informasi, dan Data BMKG Sumsel, Sinta Andayani, menjelaskan bahwa saat ini wilayah Sumatera Selatan, termasuk Kabupaten Banyuasin, tengah berada dalam masa peralihan musim atau pancaroba dari musim hujan menuju musim kemarau.

Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

Kondisi atmosfer selama masa pancaroba ini memicu pertumbuhan awan konvektif yang signifikan. Akibatnya, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat berpotensi terjadi kapan saja, terutama pada waktu-waktu krusial.

“Potensi hujan terjadi tidak menentu, namun umumnya turun pada siang, sore hingga malam hari dengan intensitas sedang hingga sangat lebat,” jelas Sinta, Jumat (24/4/2026), dilansir dari Tribun.

Selain curah hujan yang tinggi, ancaman utama lainnya adalah fenomena angin kencang yang sering muncul sesaat sebelum atau selama hujan berlangsung. BMKG mencatat kecepatan angin dapat mencapai 40 hingga 50 kilometer per jam. Kecepatan ini dinilai cukup kuat untuk menimbulkan kerusakan fisik pada infrastruktur maupun bangunan yang tidak kokoh.

Pengaruh El Nino dan Prediksi Kemarau

Meskipun saat ini curah hujan masih tinggi, BMKG memprediksi Sumatera Selatan akan segera memasuki musim kemarau. Berdasarkan pemantauan data iklim, awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada pertengahan Mei mendatang.

Sinta menambahkan bahwa kondisi cuaca tahun ini juga dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang berdampak pada pergeseran pola cuaca di wilayah Sumsel. Oleh karena itu, meski memasuki musim kemarau, bukan berarti hujan akan hilang sepenuhnya.

“Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi dampak angin kencang dan hujan lebat, baik di wilayah pesisir maupun daerah permukiman,” tambahnya.

Pada awal musim kemarau nanti, hujan masih mungkin terjadi, namun intensitasnya diprediksi tidak akan sesering dan sekuat pada masa peralihan seperti saat ini. Masyarakat diharapkan tetap memperbarui informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG guna mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi, seperti pohon tumbang atau kerusakan atap bangunan akibat terpaan angin.