Militer Amerika Serikat dilaporkan kembali mencegat tiga kapal tanker minyak yang berbendera Iran di perairan Asia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk memperketat blokade maritim terhadap Iran, yang telah berlangsung selama beberapa waktu terakhir.
Menurut sumber perkapalan dan keamanan yang enggan disebutkan namanya, kapal-kapal tanker tersebut dialihkan dari rute pelayaran mereka di sekitar perairan India, Malaysia, dan Sri Lanka. Pencegatan ini terjadi di tengah ketegangan yang terus meningkat antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait jalur pelayaran strategis di Timur Tengah.
Dilansir dari Reuters, Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap perdagangan maritim Iran. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan AS juga dilaporkan telah menyita satu kapal kargo dan satu kapal tanker minyak milik Iran.
Menanggapi tindakan AS, Iran meningkatkan respons militernya dengan menembaki kapal-kapal yang melintas, terutama di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global. Iran bahkan mengklaim telah menangkap dua kapal kontainer yang mencoba keluar dari Teluk melalui selat tersebut pada Rabu, yang merupakan penyitaan pertama sejak konflik meningkat.
Detail Pencegatan Kapal Tanker
Menurut dua sumber perkapalan dari Amerika Serikat dan India, serta dua sumber keamanan maritim Barat, setidaknya tiga kapal tanker minyak berbendera Iran telah dialihkan oleh pasukan AS dalam beberapa hari terakhir. Hingga berita ini diturunkan, militer AS belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan komentar mengenai pencegatan tersebut.
Salah satu kapal yang menjadi target adalah supertanker Deep Sea, yang membawa muatan minyak mentah. Kapal ini terakhir terdeteksi berada di lepas pantai Malaysia sekitar sepekan lalu, berdasarkan data pelacakan kapal melalui platform MarineTraffic.
Kapal tanker berukuran lebih kecil, Sevin, dengan kapasitas hingga 1 juta barel dan terisi sekitar 65 persen, juga dilaporkan turut dicegat. Reuters melaporkan, kapal ini terakhir terpantau berada di perairan Malaysia sekitar sebulan lalu.
Selain itu, supertanker Dorena, yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah, juga turut dicegat. Kapal ini terakhir terlihat di lepas pantai India selatan tiga hari sebelum laporan ini dibuat.
Komando Pusat AS (US CENTCOM) melalui unggahan di platform X mengonfirmasi bahwa kapal Dorena sempat dikawal oleh kapal perusak Angkatan Laut AS di Samudra Hindia setelah diduga mencoba melanggar blokade.
Sumber perkapalan juga menyebutkan kemungkinan kapal tanker lainnya, Derya, turut menjadi sasaran pencegatan. Kapal ini sebelumnya dilaporkan gagal membongkar muatan minyak di India setelah pengecualian AS terhadap impor minyak Iran berakhir. Derya terakhir terdeteksi berada di lepas pantai barat India pada Jumat lalu.
Konteks dan Dampak Blokade
Meskipun militer AS belum memberikan keterangan resmi mengenai seluruh pencegatan tersebut, Komando Pusat AS menyatakan bahwa sejak blokade diberlakukan, setidaknya 29 kapal telah diperintahkan untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan.
Seorang sumber keamanan maritim menambahkan bahwa operasi pencegatan ini dilakukan di luar Selat Hormuz, yakni di perairan terbuka. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko ancaman ranjau laut selama operasi berlangsung.
Situasi ini terjadi hampir dua bulan sejak Amerika Serikat dan Israel memulai konflik dengan Iran, dan belum terlihat tanda-tanda perundingan damai akan kembali berlanjut. Gencatan senjata yang masih rapuh semakin memperburuk keadaan.
Blokade dan ketegangan di Selat Hormuz berdampak besar terhadap pasokan energi global. Sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia terganggu, yang memicu krisis energi global.






