Akses.co.id — Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, terpantau tetap ramai oleh pengunjung pada Sabtu (25/4/2026) malam, bertepatan dengan peringatan Hari Bumi yang diisi dengan aksi pemadaman lampu. Aktivitas di pusat kuliner dan hiburan tersebut tampak berjalan normal, meskipun Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk mematikan lampu selama satu jam, mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB.
Kios-kios makanan dan tempat hiburan seperti photo box terlihat dipadati pengunjung, didominasi oleh kalangan muda yang menikmati suasana akhir pekan. Sementara itu, di sisi lain, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan tampak gelap, sesuai dengan imbauan pemadaman lampu.
Beberapa anak muda yang ditemui mengaku tidak sepenuhnya menyadari adanya kegiatan pemadaman lampu tersebut. Meski demikian, mayoritas dari mereka menilai aksi pemadaman listrik ini merupakan langkah yang positif dalam upaya pelestarian lingkungan.
Respons Pengunjung Terhadap Pemadaman Lampu
Putri (21), salah seorang pengunjung, menganggap kegiatan pemadaman lampu sebagai langkah positif untuk mengurangi penggunaan energi. “Bagus sih, jadinya kasih waktu sumber daya untuk enggak dipakai dulu,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Namun, ia menilai durasi pemadaman selama satu jam belum cukup memberikan dampak yang signifikan. “Ada pro dan kontra sih. Karena habis itu listriknya dinyalain lagi pasti besar dayanya,” kata Putri.
Putri menduga kawasan seperti Blok M tidak sepenuhnya ikut dipadamkan karena tingginya aktivitas pengunjung. “Ini kan tempat hiburan, semuanya lah. Jadi pasti mungkin chaos. Tapi kalau ada pemberitahuan dulu mungkin bisa,” tambahnya.
Pengunjung lain, Faisal (23), berpendapat serupa, menilai pemadaman lampu sebagai langkah positif untuk mendorong penghematan energi dan kesadaran lingkungan. Ia mengkhawatirkan dampak aktivitas usaha di kawasan tersebut. “Kalau kita pengunjung sih kayaknya enggak akan berdampak. Tapi yang di atas lagi, orang-orang kayak gini yang jualan. Kan kalau listriknya mati, otomatis kulkasnya juga mati,” ujar Faisal.
Faisal juga menyarankan agar kegiatan seperti ini dilakukan secara berkala agar pesan pelestarian lingkungan lebih efektif dirasakan masyarakat. “Enggak efektif sih kalau cuma satu jam. Kalau bisa satu bulan sekali,” katanya.
Ariel (23), seorang karyawan di salah satu kios makanan di Blok M Hub, menyampaikan pandangannya bahwa pemadaman listrik adalah langkah baik untuk penghematan energi. Namun, ia menekankan perlunya pengaturan yang mempertimbangkan aktivitas usaha. “Ya paling enggak bisa ngapa-ngapain dulu. Tapi sebenarnya bagus sih, tapi jangan sekali. Mungkin tiga bulan sekali,” ujarnya.
Bagian dari Aksi Pengurangan Emisi
Pemadaman lampu ini merupakan bagian dari peringatan Hari Bumi 2026 yang diselenggarakan oleh Pemprov DKI Jakarta secara serentak di lima wilayah kota. Kegiatan ini menyasar berbagai jenis bangunan, mulai dari fasilitas pemerintah, gedung komersial, pusat perbelanjaan, restoran, hotel, hingga apartemen, serta beberapa jalan protokol dan arteri.
Pemerintah memastikan bahwa fasilitas vital seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik tetap beroperasi normal untuk menjamin pelayanan publik.
Pada pelaksanaan kegiatan serupa di tahun sebelumnya, yaitu 2025, tercatat berhasil menghemat listrik sebesar 439,76 megawatt hour (MWh). Penghematan ekonomi yang dicapai diperkirakan sekitar Rp 636 juta, dengan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 365,53 ton CO2.
Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penghematan energi dan perlindungan lingkungan dapat terus meningkat dari waktu ke waktu.
Ikuti Akses.co.id
