Akses.co.id — PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) menyatakan bahwa kenaikan biaya sejumlah komponen produksi pupuk tidak memberikan dampak signifikan terhadap bisnis perusahaan. Anggono Wijaya, Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim, mengakui adanya kenaikan harga bahan baku produksi yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Jadi adanya kenaikan harga dari beberapa komponen untuk bahan baku,” kata Anggono usai melaporkan Kinerja Operasional Pupuk Kaltim Kuartal I 2026 di Menteng, Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Menurut Anggono, tekanan akibat gejolak geopolitik ini tidak hanya dirasakan oleh Pupuk Kaltim, tetapi juga oleh banyak perusahaan lain di Indonesia. Komponen yang mengalami kenaikan biaya antara lain energi dan plastik yang digunakan untuk kemasan produk.
Menghadapi tantangan tersebut, Pupuk Kaltim mengandalkan program efisiensi bertajuk Operational Excellence. Program ini dirancang untuk memastikan kelancaran operasional perusahaan melalui manajemen risiko yang kuat.
“Sehingga eh program efisiensi yang dijalankan itu bisa meringankanlah ya dengan adanya kenaikan-kenaikan biaya-biaya tadi,” tutur Anggono. Ia menegaskan bahwa efisiensi internal ini memungkinkan Pupuk Kaltim untuk tetap menjalankan bisnisnya seperti biasa tanpa terpengaruh secara berarti.
“Secara keseluruhan itu tidak berdampak terhadap bisnis PKT, gitu,” ujar Anggono.
Capaian Kinerja Kuartal I 2026
Dalam kesempatan yang sama, Anggono memaparkan bahwa Pupuk Kaltim berhasil mencatatkan kinerja produksi yang solid pada kuartal pertama tahun 2026. Perusahaan memiliki tiga produk utama: urea, NPK, dan amonia.
“Total produksi sekitar. Ini jumlah totalnya 2,14 juta ton ya,” kata Anggono.
Rincian produksi tersebut meliputi 1.164.435 ton urea, yang menyumbang 33,65 persen dari total produksi. Sementara itu, NPK mencapai 104.318 ton (32,49 persen), dan amoniak sebanyak 874.644 ton (31,91 persen).
Per tanggal 27 April 2026, stok pupuk subsidi yang tersedia di gudang Pupuk Kaltim tercatat sebanyak 618.393 ton. Anggono merinci, stok urea subsidi berada di atas target service stock, mencapai 131 persen, sementara NPK mencapai 196 persen.
Dengan ketersediaan stok yang memadai ini, Anggono memastikan bahwa kebutuhan petani secara nasional dapat terpenuhi. Pupuk-pupuk tersebut juga dipastikan dalam kondisi siap salur ke berbagai wilayah.
“Terutamanya dengan stok urea subsidi,” pungkasnya.
Ikuti Akses.co.id
