Akses.co.id — Kasus dugaan kekerasan di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Yogyakarta meninggalkan luka mendalam tidak hanya bagi anak-anak yang menjadi korban, tetapi juga bagi para ibu mereka. Di tengah ketidakpastian dan tekanan, sebagian ibu justru harus menghadapi komentar miring dari publik yang menyalahkan keputusan mereka menitipkan anak. Padahal, sebelum badai komentar itu datang, mereka telah berjuang melawan rasa bersalah, kecemasan, dan hilangnya rasa aman.
Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan bahwa reaksi emosional yang dialami para ibu dalam situasi traumatis seperti ini adalah hal yang wajar. “Ibu bisa mengalami shock, sedih mendalam, marah, cemas, dan rasa bersalah. Ibu juga bisa kehilangan rasa aman dan kepercayaan, karena tempat yang seharusnya dipercaya justru mencelakai anak,” ujar Vera saat dihubungi Kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Rasa Bersalah yang Menghantui
Dalam banyak kasus, ibu seringkali menjadi orang pertama yang menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpa anak mereka. Perasaan ini muncul sebagai respons naluriah orangtua yang merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan perlindungan anak. Ketika anak terluka, muncul pemikiran seolah-olah mereka telah gagal dalam menjalankan peran fundamental tersebut.
“Padahal, dalam kasus seperti ini, pelaku sepenuhnya adalah pihak yang melakukan kekerasan. Namun, dalam kondisi traumatis, seseorang cenderung mencari kendali dan penjelasan, yang sering berujung pada menyalahkan diri sendiri,” jelas Vera.
Dampak Komentar Negatif di Media Sosial
Di era digital seperti sekarang, tekanan yang dihadapi ibu tidak hanya berasal dari peristiwa itu sendiri, tetapi juga dari respons publik di media sosial. Komentar yang bersifat menyudutkan, seperti mempertanyakan alasan menitipkan anak di daycare, berpotensi memperparah kondisi mental ibu.
“Komentar negatif bisa memperkuat rasa bersalah, memicu kecemasan, bahkan membuat ibu menarik diri dari lingkungan sosial. Ini berisiko menjadi trauma kedua setelah kejadian utama,” kata Vera.
Memberi Ruang untuk Pemulihan
Dalam menghadapi situasi sulit ini, sangat penting bagi para ibu untuk tidak memendam emosi yang muncul. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan adalah langkah awal dalam proses pemulihan.
Selain itu, para ibu perlu fokus pada hal-hal mendasar, seperti memastikan keamanan anak, mencari bantuan medis atau psikologis jika diperlukan, serta mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat. Membatasi paparan terhadap berita atau komentar yang dapat memicu stres juga dapat membantu menjaga stabilitas kondisi mental.
Peran Dukungan Lingkungan
Proses pemulihan tidak dapat dijalani seorang diri. Dukungan dari keluarga, pasangan, dan teman memegang peranan krusial dalam membantu ibu melewati masa-masa sulit ini. Kehadiran yang mendengarkan tanpa menghakimi, bantuan dalam kebutuhan sehari-hari, atau sekadar menemani, dapat memberikan kembali rasa aman.
Sebaliknya, sikap yang menyalahkan, meminta ibu untuk “segera melupakan,” atau membandingkan dengan kasus lain justru dapat memperparah kondisi emosional mereka.
Mengedepankan Empati di Tengah Tragedi
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak ada orangtua yang sengaja menitipkan anaknya di tempat yang berisiko mencelakai. Keputusan tersebut seringkali diambil karena kebutuhan dan keyakinan bahwa anak akan mendapatkan perawatan yang baik.
Oleh karena itu, alih-alih menghakimi, masyarakat perlu lebih mengedepankan empati. Mengubah sudut pandang dari pertanyaan “mengapa anak dititipkan?” menjadi “bagaimana kita bisa membantu keluarga ini pulih?” dapat menjadi langkah sederhana yang membawa dampak besar. Di tengah situasi yang penuh duka, empati bukan hanya sekadar bentuk kepedulian, tetapi juga merupakan bagian integral dari proses penyembuhan.
Ikuti Akses.co.id
