Regional

Berharap Pabrik Gula Beroperasi Lagi, Petani Tebu Blora Temui Jokowi dan Bawa Tiga Tandan Pisang Tanduk

Advertisement

SOLO, KOMPAS.com – Sekelompok petani tebu dari Blora, Jawa Tengah, melakukan perjalanan ke Solo pada Rabu (22/4/2026) untuk bertemu dengan mantan Presiden Joko Widodo di kediamannya. Rombongan petani ini datang dengan menyewa bus dan membawa oleh-oleh yang tak biasa: tiga tandan pisang tanduk dari kampung halaman mereka.

Kehadiran mereka di kediaman Presiden keenam RI tersebut bukan tanpa tujuan. Perwakilan petani tebu Blora, Khairul Anwar, menjelaskan bahwa kedatangan mereka adalah untuk menyampaikan aspirasi mendesak agar Pabrik Gula (PG) Blora dapat kembali beroperasi.

“Saya sampaikan ke Bapak Jokowi bahwa kami petani tebu Blora mengharapkan pabrik gulanya bisa beroperasi kembali,” ujar Khairul pada Rabu.

Berharap Dukungan Tokoh Nasional

Petani tebu Blora sangat berharap dukungan dari Presiden ke-7 RI tersebut dapat memberikan dorongan signifikan terhadap pengoperasian kembali PG Blora. Keberadaan PG bukan hanya sekadar fasilitas produksi, melainkan menjadi tulang punguk perekonomian masyarakat setempat.

“Dengan dukungan Pak Jokowi, tokoh nasional mungkin dia bisa memanggil atau menginformasikan pabrik gula Blora butuh dioperasikan kembali dengan cepat,” harap Khairul.

Khairul menegaskan bahwa PG Blora merupakan satu-satunya sumber penghidupan bagi para petani tebu di wilayah tersebut. Mereka bertekad untuk tidak membiarkan masyarakat Blora terjerumus dalam kemiskinan akibat hilangnya mata pencaharian.

Lebih lanjut, Khairul menyampaikan bahwa kembalinya PG Blora beroperasi akan membangkitkan semangat para petani untuk kembali bertani dan berkontribusi pada program swasembada gula nasional.

Advertisement

“Karena kalau tidak dioperasikan maka petani Blora dan masyarakat Blora akan redup perekonomiannya dan akan menjadi jatuh miskin lagi. Kami tidak ingin seperti itu. Petani ingin semangat menanam dan membantu program pemerintah menuju swasembada gula,” tandasnya.

Menurut penuturan Khairul, PG Blora telah terhenti beroperasi sejak tahun 2025 akibat kerusakan pada mesin broiler.

Perjuangan Panjang Mencari Solusi

Sebelum mengambil langkah menemui Presiden Jokowi, para petani tebu Blora telah berupaya mencari solusi melalui berbagai jalur. Mereka mengaku telah mendatangi Bulog, serta bertemu dengan Gubernur dan Bupati Blora.

“Perjuangan kita sudah lama setahun lalu juga ke Bulog beberapa kali terus juga ke DPR, pak gubernur, pak bupati. Kita sudah coba semua lini,” ungkap Khairul.

Dengan harapan besar, Khairul menyampaikan bahwa kehadiran tokoh nasional seperti Presiden Jokowi diharapkan dapat membantu memuluskan upaya pengoperasian kembali PG Blora.

“Kita berharap tokoh-tokoh nasional ikut membantu memperhatikan petani. Itu sih harapan kami. Cuma itu tidak ada yang lain,” pungkas Khairul.

Advertisement