Akses.co.id — SURABAYA, Kompas.com – Di tengah riuh rendahnya dentuman keyboard dan suara klik mouse peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 di Kampus 2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Lidah Wetan, Kamis (23/4/2026), terdengar alunan suara yang membacakan soal ujian. Suara itu berasal dari headphone yang terpasang di telinga Shakina Aliya Bilbina, salah satu peserta disabilitas netra.
Shakina, dengan kacamata hitam dan rambut halus yang terurai, tampak khusyuk menyimak setiap ejaan soal yang ditransmisikan dari komputer. Di sampingnya, seorang pendamping siaga siap membantu memenuhi kebutuhannya.
Ia bukan satu-satunya. Bersama tiga peserta disabilitas netra lainnya, Shakina berjuang menaklukkan UTBK. Persiapan matang telah ia lakukan jauh sebelum hari ujian tiba, meski rasa deg-degan tak dapat disembunyikan.
Tahun ini, Shakina mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Luar Biasa Unesa. “Motivasi saya ingin masuk program studi ini karena ingin membantu anak-anak Tuna Netra lainnya agar bisa membaca braille,” ungkap Shakina seusai menyelesaikan ujian.
Ujian Komprehensif untuk Penyandang Disabilitas
Pengalaman peserta seperti Shakina menjadi landasan bagi Unesa untuk terus menerapkan mekanisme seleksi yang komprehensif bagi penyandang disabilitas. Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Alumni Unesa, Martadi, menjelaskan bahwa seleksi didasarkan pada hasil asesmen yang melibatkan psikolog, tim disabilitas, serta tim akademik.
Martadi mencatat, tahun ini Unesa diikuti oleh enam peserta disabilitas dalam UTBK. Rinciannya, dua peserta disabilitas rungu dan empat lainnya disabilitas netra.
“Ada pendamping dan instruktur teknis seperti jaringan serta perangkat audio telah disiapkan agar peserta dapat mengerjakan mandiri melalui perintah suara,” kata Martadi.
Teknologi Asistif untuk Kelancaran Ujian
Untuk memastikan kelancaran ujian bagi peserta disabilitas netra, Unesa telah menyediakan teknologi asistif di setiap unit komputer UTBK. Salah satu perangkat unggulan adalah perangkat lunak Non Visual Dekstop Access (NVDA), yang mampu menerjemahkan tampilan visual pada layar menjadi bentuk audio.
Sementara itu, untuk soal-soal perhitungan, panitia pusat UTBK 2026 menyediakan alat bantu tambahan berupa reglet. Alat tulis manual berbentuk plat penjepit ini digunakan oleh penyandang disabilitas netra untuk menulis huruf braille.
Selain itu, Unesa juga menyediakan perangkat khusus untuk kategori low vision dengan fitur pembesaran layar (zoom). Namun, pada sesi ini perangkat tersebut tidak digunakan karena seluruh peserta yang hadir merupakan tunanetra total.
“Panitia menerima kiriman perangkat cadangan sebesar 50 persen dari jumlah peserta sebagai antisipasi kendala teknis di lapangan,” ujar Koordinator TIK Unesa, I Gusti Lanang Putra Eka Prismana.
Ikuti Akses.co.id
