— LUWU, KOMPAS.com — Bentrokan antar kelompok pemuda dari Desa Baramamase dan Desa Kalibamamase, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mengganggu aktivitas ekonomi warga, terutama petani yang sedang memasuki musim panen padi. Konflik yang terjadi pada Jumat (24/4/2026) dini hari hingga siang itu bertepatan dengan momen krusial bagi para petani.

Camat Walenrang, Ikram Ramin, menyatakan keprihatinannya atas situasi yang terjadi. “Situasi ini tentu tidak kami inginkan, apalagi menyangkut keamanan dan ketertiban. Dampak kerusuhan ini sangat memengaruhi aktivitas ekonomi,” ujar Ikram saat dikonfirmasi pada Sabtu (25/4/2026).

Harga Gabah Terancam Turun Drastis

Ikram menjelaskan bahwa terganggunya keamanan membuat para pedagang enggan memasuki wilayah tersebut. Hal ini juga berdampak pada ketersediaan alat panen.

“Sekarang ini sedang masa panen. Kalau situasi tidak aman, pedagang tidak berani masuk termasuk pemilik alat combine harvester. Ini sangat berpengaruh terhadap harga gabah petani,” kata Ikram.

Ia menambahkan, penundaan penjualan gabah yang hanya berlangsung selama dua hari dapat menyebabkan penurunan harga yang signifikan.

“Kalau gabah tertahan dua hari, harganya bisa anjlok. Ini yang kami khawatirkan karena sangat merugikan petani,” tegas Ikram.

Diduga Dipicu Keterlibatan Pihak Luar

Menurut Camat Walenrang, konflik antara kedua desa sebenarnya telah berlangsung lama, namun biasanya dapat diredam.

“Konflik ini sudah lama terjadi, tetapi biasanya bisa kami damaikan,” ungkapnya.

Namun, pada kejadian terakhir, Ikram melihat adanya keterlibatan pihak luar yang memperkeruh suasana.

“Kami melihat banyak pemuda dari luar yang ikut masuk. Ini yang membuat kami khawatir,” ujar Ikram.

Kondisi ini mengharuskan aparat dan pemerintah setempat untuk bertindak ekstra hati-hati di lokasi konflik.

Polisi Pastikan Situasi Kondusif

Wakil Kepala Polres Luwu, Kompol Misbahuddin, menyatakan bahwa situasi di lokasi bentrokan kini berangsur kondusif setelah aparat keamanan turun tangan.

“Sekitar pukul 10.00 WITA situasi sudah kondusif dan arus lalu lintas kembali normal,” ujar Misbahuddin.

Polisi bersama Brimob Polda Sulawesi Selatan dan pemerintah setempat terus berkoordinasi untuk mencegah terjadinya konflik susulan. Sebagai langkah antisipasi, aparat berencana mendirikan dua pos pengamanan di titik-titik rawan.

“Kami akan membentuk pos sementara di perbatasan untuk memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat,” jelas Misbahuddin.

Dua Kios Terbakar, Empat Warga Luka

Sebelumnya, bentrokan tersebut terjadi di Jalan Poros Trans Sulawesi dan berlangsung sejak dini hari hingga pagi. Akibat dari konflik ini, arus lalu lintas sempat lumpuh karena ruas jalan dikuasai oleh massa.

Dua unit kios milik warga dilaporkan hangus terbakar dalam insiden tersebut. Selain itu, empat warga dilaporkan mengalami luka akibat terkena senjata api rakitan.