Akses.co.id — Kekhawatiran orang tua terhadap kondisi fimosis pada bayi laki-laki, yang ditandai dengan kulup penis yang sulit ditarik, kerap mengarah pada dugaan bahwa penggunaan popok sepanjang hari menjadi penyebab utamanya. Namun, benarkah asumsi tersebut?
“Pada dasarnya enggak sih. Enggak direct relations (berkaitan langsung),” ujar dokter spesialis kulit, dr. July Iriani Rahardja, SpDVE, MM, FINSDV, di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Faktor Bawaan dan Kebersihan Lebih Dominan
Meski pemakaian popok bukan penyebab langsung fimosis, dr. July menekankan pentingnya menjaga kebersihan area genital. Lingkungan yang lembap dan kebersihan yang buruk di area lipatan tertutup dapat memperparah kondisi, terutama bagi bayi yang rentan.
“Mungkin salah satu faktornya adalah kebersihan juga ya. Kelembaban bisa jadi, tapi maksudnya direct relation (dari penggunaan popok) untuk jadinya fimosis gitu enggak,” jelasnya.
Hingga kini, penyebab pasti mengapa sebagian bayi terlahir dengan fimosis sementara yang lain tidak, masih belum dapat dipastikan secara ilmiah. Kondisi ini umumnya dianggap sebagai kelainan bawaan yang bersifat individual, terlepas dari kebiasaan penggunaan popok.
“Ya pada dasarnya bawaan. Tapi maksudnya ya kebersihan juga ngaruh ya. Cuma ya enggak ada yang secara pasti tahu nih kenapa satu anak ini fimosis, dan satu anak ini enggak,” tambah dr. July.
Waspadai Gejala “Gelembung” Saat Buang Air Kecil
Deteksi dini fimosis sangat krusial untuk mencegah rasa sakit pada anak saat buang air kecil. Orang tua perlu mengamati perubahan fisik, terutama munculnya bentuk seperti gelembung pada ujung penis akibat tertahannya aliran urine.
“Kalau misalnya udah sampai ada gejalanya tadi tuh, misalnya gelembung dulu, kencingnya jadi setengah-setengah, sedikit-dikit,” kata dr. July.
Selain tanda fisik, perubahan perilaku mendadak saat buang air kecil juga menjadi alarm. Rasa perih dapat membuat anak menahan buang air kecil, yang justru memperburuk kondisi saluran kemihnya.
“Nangis pastinya, nangis kejer. Enggak mau kencing. Jadinya malah enggak bisa kencing karena takut,” tuturnya.
Larangan Menarik Paksa Kulup untuk Hindari Trauma
Kesalahan umum yang masih banyak dilakukan adalah memaksakan kulup ditarik saat membersihkan sisa urine. Tindakan ini berbahaya karena jaringan pada anak masih sangat tipis dan rentan memicu trauma fisik.
“Si penisnya itu kan nutup gitu. Kita enggak boleh paksa ditarik karena nanti dia jadi ada luka,” tegas dr. July.
Pembersihan rutin disarankan dilakukan selembut mungkin menggunakan kapas basah bersuhu suam-suam kuku tanpa tarikan mekanis. Pengeringan juga harus dilakukan dengan hati-hati, cukup dengan menepuk-nepuk (tap tap) agar lapisan kulit sensitif tidak tergerus.
“Keringinnya enggak boleh digosok-gosok. Keringinnya mesti di-tap tap,” pungkas dr. July.
Ikuti Akses.co.id
