MINAHASA, KOMPAS.com – Kondisi Sekolah Dasar (SD) Negeri Sinuian di Desa Sinuian, Kecamatan Romboken, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, dilaporkan sangat memprihatinkan. Bangunan sekolah yang berdiri sejak lama ini mengalami kerusakan yang semakin parah dari waktu ke waktu.
Berdasarkan data dari website dapo.kemendikdasmen.go.id, sekolah ini memiliki SK pendirian tertanggal 15 September 1962 dan SK Izin Operasional tertanggal 1 Januari 1910. Namun, beberapa tahun terakhir, kerusakan ringan mulai muncul dan perlahan merambat ke seluruh bangunan.
Kepala Sekolah SD Negeri Sinuian, Nonie Fietje Tombeng, menuturkan bahwa kerusakan mulai terasa sejak empat hingga lima tahun lalu. “Dimulai dari atap seng yang sudah lapuk dan bocor. Setiap mulai mengalami kerusakan, atap mulai bocor dan kalau hujan, air masuk ke dalam kelas,” ungkapnya, Rabu (22/4/2026).
Situasi semakin memburuk dengan adanya bencana alam angin puting beliung pada tahun 2025 yang menghantam salah satu ruangan kelas. “Waktu itu angin kencang dan sempat ada pohon tumbang di belakang sekolah dan menghantam ruangan kelas yang rusak berat itu,” jelas Tombeng.
Akibatnya, hingga kini, kondisi sekolah masih memprihatinkan. Hujan sekecil apapun dapat menyebabkan kebocoran di semua ruangan kelas. “Kalau langit sudah mendung, anak-anak langsung kami pulangkan, menjaga jangan sampai hujan deras masih di sekolah, lalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
SD Negeri Sinuian saat ini memiliki sekitar 40 siswa dan lima orang tenaga pengajar, termasuk kepala sekolah. Dari jumlah tersebut, tiga orang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan dua orang guru honorer.
Tombeng menambahkan bahwa jumlah siswa sebenarnya bisa lebih dari 40, namun orang tua siswa dengan kondisi ekonomi menengah ke atas cenderung memilih sekolah lain yang dianggap lebih aman. “Sedangkan yang bertahan di sini orang tuanya penghasilannya ekonomi menengah ke bawah, mungkin mereka percaya, kalau terjadi apa-apa, ada guru di sekolah,” tuturnya.
Mirisnya lagi, memasuki tahun ajaran baru, tercatat hanya satu siswa yang mendaftar di SD Negeri Sinuian. Kondisi sekolah yang memprihatinkan ini menjadi penyebab utama banyak calon siswa memilih mendaftar di sekolah lain di desa tetangga yang jaraknya lebih jauh.
Oleh karena itu, Kepala Sekolah SD Negeri Sinuian sangat berharap pembangunan sekolah baru yang sedang berjalan dapat segera selesai. Ia optimis jika sekolah sudah selesai dan direvitalisasi, minat anak untuk bersekolah di sana akan meningkat. “Kemungkinan kalau sekolah sudah dua lantai, mereka akan pindah ke sini, semoga saja,” harapnya.
Pemerintah sendiri telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,1 miliar untuk pembangunan sekolah baru ini. Dana tersebut mencakup rehabilitasi ruang kelas, ruang administrasi, ruang perpustakaan, pembangunan toilet, penataan lingkungan, serta pekerjaan persiapan umum dan RKCK.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) RI, Abdul Mu’ti, usai peletakan batu pertama program revitalisasi satuan pendidikan, menyatakan bahwa sekolah baru ini akan dibangun dua lantai agar lebih representatif untuk kegiatan belajar mengajar.






