Akses.co.id — LEMBATA, KOMPAS.com — Kendaraan roda dua maupun roda empat memadati sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis (23/4/2026). Fenomena antrean panjang ini terjadi meski Pertamina telah menyatakan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Biosolar dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad Rahed, menjelaskan bahwa antrean panjang tersebut dipicu oleh beberapa faktor. “Berdasarkan informasi di lapangan, kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa hal,” ujar Ahad dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (24/4/2026).
Lonjakan Kebutuhan dan Indikasi Penimbunan
Salah satu penyebab utama antrean adalah meningkatnya kebutuhan BBM pada kendaraan bermotor. Selain itu, tingginya penerbitan surat rekomendasi untuk para nelayan turut berkontribusi pada peningkatan konsumsi BBM bersubsidi.
“Kemudian ada indikasi aktivitas pembelian oleh pengecer,” tambah Ahad, mengindikasikan adanya kemungkinan pembelian BBM bersubsidi untuk dijual kembali.
Menyikapi kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga telah menjalin koordinasi dengan Pemerintah Daerah Lembata serta aparat penegak hukum. Fokus utama kerja sama ini adalah untuk memperkuat pengawasan terhadap distribusi BBM, terutama dalam penerbitan surat rekomendasi bagi nelayan agar penyalurannya tepat sasaran.
Evaluasi Kuota dan Imbauan Bijak
Lebih lanjut, Pertamina juga berkolaborasi dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kuota BBM bersubsidi, khususnya jenis Pertalite dan Biosolar di wilayah Lembata.
“Langkah ini dilakukan guna memastikan distribusi BBM tetap optimal dan kebutuhan masyarakat terpenuhi dengan baik,” jelas Ahad.
Pertamina mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk dapat membeli BBM bersubsidi secara bijak dan hanya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Ikuti Akses.co.id
