— Istilah “tinggi protein” kerap menghiasi label produk makanan dan perbincangan di media sosial, namun pemahaman mengenai definisinya ternyata masih simpang siur di kalangan masyarakat. Tren peningkatan konsumsi protein membuat banyak produsen makanan mengklaim produk mereka sebagai sumber protein tinggi, padahal standar penentuannya tidak selalu jelas.

Menurut pakar gizi, pemahaman tentang kebutuhan protein idealnya disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing individu. Tidak ada definisi tunggal yang mengikat secara universal mengenai apa yang dapat dikategorikan sebagai makanan tinggi protein.

Tak Ada Standar Pasti untuk “Tinggi Protein”

Para ahli sepakat bahwa label “tinggi protein” tidak memiliki definisi baku yang disepakati secara global. Michael Ormsbee, Direktur Institute of Sports Sciences and Medicine di Florida State University, mengakui bahwa istilah tersebut sering kali digunakan secara fleksibel dalam berbagai konteks.

“Tidak ada definisi yang benar-benar disepakati secara universal,” ujar Ormsbee.

Meskipun demikian, konsep ini tetap memiliki landasan ilmiah yang kuat, merujuk pada beragam manfaat protein bagi fungsi tubuh.

Kebutuhan protein harian setiap orang sangat bervariasi. Grace Derocha, seorang ahli gizi terdaftar, menjelaskan bahwa kebutuhan dasar protein yang direkomendasikan adalah sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan per hari. Dengan demikian, seseorang yang memiliki berat badan 70 kilogram idealnya mengonsumsi sekitar 56 gram protein setiap harinya.

Namun, konsumsi protein yang melebihi angka dasar ini umumnya mulai dikategorikan sebagai asupan “tinggi protein”.

Definisi “Tinggi Protein” Menurut Para Ahli

Michael Ormsbee menyebutkan bahwa asupan protein yang dianggap tinggi biasanya berkisar antara 1,6 hingga 2,2 gram per kilogram berat badan. Angka ini seringkali disesuaikan dengan tujuan kesehatan spesifik, seperti upaya membangun massa otot atau menurunkan berat badan.

Peneliti dietetik, John Carbone, menambahkan bahwa konsumsi protein dalam jumlah lebih tinggi dapat memberikan sejumlah manfaat signifikan bagi tubuh.

“Protein dapat membantu mengontrol nafsu makan, memperbaiki komposisi tubuh, dan mendukung metabolisme,” jelas Carbone.

Sumber Protein Tinggi dalam Keseharian

Makanan yang dikategorikan tinggi protein tidak melulu harus berupa produk olahan yang mahal atau suplemen khusus. Para ahli menekankan bahwa makanan sehari-hari yang umum dikonsumsi seperti ayam, telur, ikan, dan berbagai jenis kacang-kacangan merupakan sumber protein yang sangat baik.

Untuk satu kali waktu makan, asupan protein berkisar antara 35 hingga 45 gram sudah dapat dianggap tinggi bagi sebagian orang. Contohnya meliputi dada ayam panggang yang disajikan bersama sayuran, telur orak-arik ditemani roti gandum, atau ikan salmon yang disantap dengan ubi jalar.

Pentingnya Camilan Tinggi Protein

Selain makanan utama, camilan juga dapat berperan sebagai sumber protein tambahan yang efektif. Grace Derocha menyarankan bahwa camilan yang termasuk kategori tinggi protein umumnya mengandung sekitar 15 hingga 20 gram protein per porsi.

Beberapa contoh camilan tinggi protein yang bisa menjadi pilihan antara lain telur rebus yang dikombinasikan dengan kacang almond, yogurt Yunani, atau ikan tuna yang disantap bersama biskuit gandum. Strategi mengonsumsi camilan tinggi protein ini dapat membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama dan berkontribusi dalam mengontrol asupan makanan secara keseluruhan.

Prioritaskan Makanan Alami, Bukan Hanya Produk Kemasan

Meskipun saat ini banyak produk makanan berlabel “tinggi protein” tersedia di pasaran, para ahli tetap menyarankan masyarakat untuk lebih mengutamakan konsumsi makanan alami. Michael Ormsbee menekankan bahwa makanan utuh seperti daging tanpa lemak, telur, produk susu, ikan, dan kacang-kacangan menawarkan manfaat nutrisi yang lebih komprehensif.

John Carbone menambahkan bahwa makanan alami tidak hanya kaya akan protein, tetapi juga mengandung nutrisi pelengkap lainnya yang esensial bagi kesehatan.

“Makanan utuh mengandung vitamin, mineral, dan serat yang juga penting bagi kesehatan,” ungkap Carbone.

Kesimpulannya, istilah “tinggi protein” tidak memiliki definisi tunggal yang kaku. Umumnya, istilah ini merujuk pada asupan protein yang melebihi kebutuhan dasar harian tubuh. Kunci utamanya bukan semata-mata kuantitas protein, melainkan juga kualitas sumber makanan yang dikonsumsi. Memahami kebutuhan protein individu menjadi langkah krusial agar manfaat optimal dari asupan protein dapat dirasakan.