Akses.co.id — JAKARTA, Kompas.com – Aksi pengendara sepeda motor yang nekat melawan arah di Jalan Meruya Ilir, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, kian marak. Fenomena ini kerap dimanfaatkan sebagai jalan pintas untuk menghindari kemacetan, namun justru menimbulkan potensi bahaya bagi pengguna jalan lainnya.
Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Jumat (24/4/2026) sore, sejumlah pengendara terlihat mengambil jalur tengah di area putaran balik (U-turn) yang mengarah ke Kencana Tower. Alih-alih berputar arah, mereka justru menyeberang dan melaju melawan arus menuju perempatan Srengseng Raya.
Tindakan ini diduga dilakukan demi mencari jalan pintas menuju berbagai lokasi seperti bengkel di sisi jalan, Jalan Jomas, dan Jalan Sanggrahan. Para pelanggar lalu lintas ini sengaja menghindari antrean kendaraan yang disebabkan oleh lampu merah di persimpangan, demi menghemat waktu.
Satpol PP Bertugas Mengadang Pelanggar
Di tengah ramainya pengendara yang melanggar, dua petugas Satpol PP Kelurahan Srengseng tampak berjaga di lokasi. Salah seorang petugas, Dede Wahyudi, secara rutin bertugas mengatur lalu lintas di area putaran balik tersebut setiap sore.
“Ini memang sebuah kewajiban setiap sore itu Satpol PP harus melakukan pengaturan lalu lintas, di mana ada putaran, pertigaan lampu merah, ditempatkan untuk mencegah hal-hal yang mengganggu trantibum (ketentraman dan ketertiban umum),” ujar Dede saat ditemui Kompas.com di lokasi.
Dede menjelaskan bahwa titik putar balik tersebut memang sering dimanfaatkan oleh pengendara untuk melawan arah, sekaligus menjadi lokasi pencarian uang bagi sejumlah “Pak Ogah”. Ia menambahkan, para pengendara yang melanggar ini nekat memotong jalur agar cepat sampai dan tidak terjebak kemacetan di Jalan Meruya Ilir Raya arah Kembangan.
“Dia mau biar cepat sampai tapi tidak memikirkan risikonya, langsung main potong arah ke tengah, kalau tiba-tiba dari arah sana kencang kan bahaya, bisa bikin kecelakaan,” sesal Dede.
Umpatan dan Perlawanan Saat Peneguran
Dede mengakui, saat bertugas menegur para pelanggar, ia kerap menghadapi perlawanan verbal. Sebagian pengendara bersikeras membela diri, bahkan melontarkan umpatan kepada petugas.
“Ya biasa lah buat kita mah itu, mau enggak mau harus tetap menegakkan peraturan lah, berantem omongan enggak apa-apa, asalkan mereka selamat juga,” tuturnya sambil tertawa. Ia bahkan mengaku terkadang memarahi pelanggar dengan bahasa Inggris.
Meskipun demikian, Dede mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut dan tetap fokus menjalankan tugasnya. Ia berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya keamanan dan disiplin berkendara dapat terus ditingkatkan. Hal ini penting demi keselamatan bersama, terutama bagi pengguna jalan lain yang telah berkendara dengan hati-hati.
Ikuti Akses.co.id
