— Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia dalam kondisi yang sehat. Pernyataan ini disampaikan menyusul sebelumnya Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) sempat mempertanyakan defisit APBN di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, kini kedua lembaga internasional tersebut serta investor asing, khususnya dari Amerika Serikat, justru mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Jadi saya ingin menegaskan lagi, kondisi APBN baik. Bahkan, investor di sana kagum. Mereka sudah tidak lagi mempertanyakan soal defisit dan lain-lain, semuanya sudah jelas bagi mereka. IMF dan Bank Dunia juga sama, tidak menanyakan hal itu lagi,” ujar Purbaya di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).

Purbaya membantah isu yang menyebutkan bahwa APBN dalam kondisi buruk. Ia merinci bahwa pemerintah masih memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 420 triliun. Dana ini terbagi atas Rp 120 triliun yang ditempatkan di Bank Indonesia sebagai simpanan, dan Rp 300 triliun disimpan di perbankan dalam bentuk deposito. Penempatan dana di perbankan ini sengaja dilakukan untuk mendorong pergerakan roda perekonomian nasional.

“Yang Rp 300 triliun kita masukkan ke perbankan supaya ada tambahan likuiditas dan kredit bisa berjalan. Itu yang saya sebut sebagai penguasaan kebijakan moneter. Tidak perlu takut dengan APBN pemerintah, masih cukup, dan uang kita masih banyak,” jelasnya.

Fokus Jaga Perekonomian Nasional

Lebih lanjut, Purbaya menyatakan bahwa fokus utamanya adalah menjaga stabilitas dan pertumbuhan perekonomian Indonesia. Ia meyakini bahwa jika perekonomian dalam kondisi baik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mengikuti tren positif.

“Kalau ekonominya bagus, nanti (IHSG) naik cepat. Makanya fokus saya adalah jaga itu (ekonomi), bukan jaga IHSG. Karena IHSG akan menyesuaikan secara otomatis ke fundamental ekonominya,” kata Purbaya, mengutip dari Antara.

Pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026) sore, IHSG tercatat melemah 249,12 poin atau 3,38 persen ke posisi 7.129,49. Sementara itu, indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga mengalami penurunan sebesar 25,12 poin atau 3,51 persen, berakhir di level 690,76. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif dari ketidakpastian ekonomi global.

Meskipun demikian, Purbaya tetap optimistis terhadap fundamental perekonomian nasional yang diyakininya akan terus menguat seiring berjalannya waktu.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Kompas.com dengan judul “Purbaya: Isu Uang Negara Tinggal Rp 120 Triliun Tak Benar, APBN Masih Cukup”.