Akses.co.id — TAPANULI UTARA, KOMPAS.com – Gereja dan kantor desa kini dimanfaatkan sebagai lokasi pengungsian sementara bagi 150 kepala keluarga (KK) yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara. Langkah ini diambil untuk mempermudah pendampingan dan pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas oleh tim gabungan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa Gereja GKPA Simangumban dan Kantor Desa Aek Nabara di Kecamatan Simangumban menjadi titik pengungsian. Ia merinci, data sementara menunjukkan sekitar 150 KK dari Desa Simangumban Julu dan Desa Aek Nabara menjadi korban banjir bandang yang menerjang pada Rabu (22/4/2026) petang.
Kerusakan Infrastruktur dan Listrik Padam
Banjir bandang yang dipicu oleh hujan berintensitas tinggi ini meninggalkan jejak kerusakan material yang signifikan. BNPB mencatat sedikitnya 150 unit rumah terdampak, dengan tiga di antaranya dilaporkan hanyut terbawa arus deras.
Selain rumah warga, sejumlah infrastruktur vital juga mengalami kerusakan. Laporan mencatat:
- 1 jembatan dilaporkan hilang.
- 1 mushalla mengalami kerusakan.
- 1 fasilitas pendidikan terdampak.
Abdul Muhari menambahkan, hingga Kamis (23/4/2026), jaringan listrik di wilayah terdampak masih padam. Selain kerugian harta benda, satu orang warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat terseret material banjir bandang.
Kejadian ini merupakan bagian dari tiga bencana hidrometeorologi yang tercatat dalam periode pemantauan 23 hingga 24 April 2026. BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan, mengingat kondisi tanah yang jenuh air berpotensi memicu banjir lanjutan maupun longsor.
Data BPBD Sumut: 4 Rumah Hanyut
Sebelumnya, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara juga melaporkan dampak banjir di wilayah yang sama. Data yang diterima Pusdalops PB Sumatera Utara mencatat empat rumah hanyut di Desa Aek Nabara, Kecamatan Simangumban.
Selain itu, sebanyak 196 rumah dilaporkan terdampak, dan 18 rumah mengalami kerusakan berat. Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menyatakan bahwa data tersebut merupakan laporan resmi yang diterima pihaknya.
Sri Wahyuni menambahkan, “Berdasarkan laporan tidak ada korban luka maupun meninggal dunia. Jumlah pengungsi masih dalam pendataan.”
Ikuti Akses.co.id
