Akses.co.id — Bandara Schiphol Amsterdam, Belanda, mengumumkan kebijakan pemberian diskon 10 persen untuk biaya operasional maskapai penerbangan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap lonjakan harga bahan bakar jet (avtur) yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Februari 2026.
Diskon tersebut bersifat sementara, berlaku khusus untuk penerbangan siang hari mulai April 2026 hingga Maret 2027, efektif sejak Senin (27/4/2026). Keputusan ini mencerminkan upaya bandara untuk menjaga konektivitas internasional Belanda di tengah gejolak geopolitik.
Konektivitas Internasional Belanda Dipertaruhkan
Pihak Bandara Schiphol Amsterdam menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar telah menyebabkan peningkatan biaya operasional maskapai yang signifikan dan tak terduga. “Bandara mengambil langkah ini karena biaya maskapai penerbangan telah meningkat secara tak terduga dan tajam akibat tingginya harga bahan bakar aviasi,” demikian tertulis dalam keterangan resmi bandara, mengutip laporan AFP pada Jumat (24/4/2026).
Dalam situasi geopolitik yang penuh ketidakpastian, menjaga Belanda tetap terhubung dengan dunia internasional menjadi prioritas utama. “Terutama dalam situasi geopolitik saat ini, penting bagi Belanda untuk tetap terhubung dengan dunia internasional dan memastikan bahwa penerbangan-penerbangan penting dapat terus beroperasi,” tambah pernyataan tersebut.
Industri Penerbangan Terpukul, Maskapai Lakukan Penyesuaian
Lonjakan harga bahan bakar aviasi telah memberikan pukulan telak bagi industri penerbangan global. Maskapai nasional Belanda, KLM, merasakan dampak langsung dari kondisi ini. Pekan lalu, KLM mengumumkan pembatalan sekitar satu persen dari penerbangan jarak pendeknya, dengan alasan rute-rute tersebut tidak lagi menguntungkan akibat biaya bahan bakar yang melonjak.
Tidak hanya KLM, banyak maskapai penerbangan lain juga dilaporkan mulai melakukan efisiensi dengan memangkas rute dan biaya operasional untuk mengimbangi membengkaknya tagihan bahan bakar.
Dampak pada Perjalanan dan Sektor Pariwisata
Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi keputusan para pelaku perjalanan. Kekhawatiran akan kenaikan biaya dan ketidakpastian rute dapat mengancam keberlangsungan industri pariwisata dan bisnis global. Bandara Schiphol Amsterdam mengakui bahwa pemberian diskon ini akan berdampak pada keuangan internal mereka, meskipun angka pasti kerugian belum diungkapkan.
Namun, pihak bandara menegaskan bahwa menjaga konektivitas jauh lebih penting daripada keuntungan finansial jangka pendek. Berdasarkan data dari grup industri ACI Europe, Schiphol merupakan salah satu bandara tersibuk di Eropa. Tahun lalu, bandara ini melayani 68,77 juta penumpang, menempatkannya di posisi keempat setelah Bandara Heathrow (Inggris), Istanbul (Turkiye), dan Charles de Gaulle (Prancis).
Ikuti Akses.co.id
