— JAKARTA, Kompas.com – PT Astra International Tbk mengamati bahwa adopsi kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV) di Indonesia masih sangat terkonsentrasi di wilayah perkotaan besar, terutama Jabodetabek. Sementara itu, kendaraan hybrid menunjukkan pola penyebaran yang lebih merata di seluruh Indonesia.

Presiden Direktur Astra, Rudy, menyatakan bahwa lebih dari 20 persen mobil listrik saat ini beredar di kawasan Jabodetabek. Angka ini mengindikasikan bahwa perkembangan elektrifikasi kendaraan belum merata di seluruh negeri.

“Kalau kita lihat, mobil listrik itu distribusinya cukup terkonsentrasi, lebih dari 20 persen ada di Jabodetabek. Sementara hybrid itu lebih tersebar di seluruh Indonesia,” ujar Rudy dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Astra 2026, di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Perbedaan Preferensi Konsumen

Rudy menjelaskan bahwa konsentrasi mobil listrik di kota-kota besar seperti Jakarta didorong oleh beberapa faktor. Ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang lebih memadai dan karakter konsumen yang cenderung lebih terbuka terhadap teknologi baru menjadi penopang utama.

Di wilayah urban, mobil listrik tidak hanya dilihat sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup modern yang mengedepankan teknologi ramah lingkungan.

Sebaliknya, di luar kota-kota besar, pertimbangan konsumen lebih bersifat pragmatis. Aspek fungsionalitas, fleksibilitas penggunaan, serta keterjangkauan harga menjadi prioritas utama. Karakteristik ini membuat kendaraan hybrid lebih dilirik.

“Kalau di kota besar, orang lebih terbuka dengan teknologi baru. Tapi di non-major city, biasanya pertimbangannya lebih ke fungsi dan affordability,” kata Rudy.

Perbedaan preferensi dan kondisi infrastruktur ini menciptakan lanskap adopsi kendaraan elektrifikasi yang tidak seragam. Mobil listrik berkembang pesat di kantong-kantong tertentu, sementara hybrid membuktikan diri sebagai solusi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan mobilitas masyarakat di berbagai daerah.

Strategi Multi-Teknologi Astra

Menghadapi realitas pasar yang beragam ini, Astra menegaskan bahwa transisi menuju elektrifikasi tidak bisa dilakukan dengan satu pendekatan tunggal. Perusahaan memilih strategi multi-teknologi untuk menjawab kebutuhan pasar yang berbeda-beda.

Astra menghadirkan berbagai pilihan kendaraan, mulai dari listrik murni, hybrid, hingga mesin konvensional. Pendekatan ini mencerminkan kesadaran bahwa transisi elektrifikasi tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur dan penerimaan konsumen.

Dalam konteks ini, Astra memandang kendaraan hybrid masih memegang peranan penting sebagai jembatan yang paling relevan dengan kondisi mayoritas pasar otomotif nasional saat ini.