BRASILIA – Brasil mengambil langkah diplomatik balasan dengan mengusir seorang atase kepolisian Amerika Serikat dari wilayahnya pada Rabu (22/4/2020). Keputusan ini diambil menyusul tindakan serupa oleh pemerintahan AS yang meminta pejabat Brasil untuk meninggalkan Negeri Paman Sam, memicu perselisihan di antara kedua negara.
Sebelumnya, pada Senin (20/4/2026), pemerintahan Trump meminta Marcelo Ivo, seorang petugas penghubung Kepolisian Federal Brasil yang bertugas di Miami, untuk segera meninggalkan Amerika Serikat. Tindakan ini dilaporkan terkait dengan keterlibatan Ivo dalam penangkapan mantan kepala intelijen Brasil, Alexandre Ramagem.
Ramagem, yang merupakan sekutu dekat mantan presiden Brasil sayap kanan Jair Bolsonaro, sebelumnya menjadi buronan. Menurut laporan media AS dan Brasil, Ramagem ditahan oleh Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) pada 13 April 2026, namun kemudian dibebaskan dua hari berselang.
Pemerintahan AS melalui Departemen Luar Negerinya pada Senin (20/4/2026) menyatakan bahwa mereka telah meminta seorang pejabat Brasil, yang identitasnya tidak diungkapkan, untuk meninggalkan AS. Alasan yang diberikan adalah pejabat tersebut diduga mencoba memanipulasi sistem imigrasi AS untuk memperluas “perburuan politik” ke wilayah Amerika Serikat.
Brasil Sesalkan Pengusiran Pejabatnya
Kementerian Luar Negeri Brasil dalam sebuah pernyataan resminya mengungkapkan kekecewaan atas pengusiran pejabat mereka. Pihaknya menilai tindakan tersebut tidak sesuai dengan praktik diplomatik yang baik dan mengabaikan pentingnya dialog antara negara-negara sahabat.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Federal Brasil, Andrei Rodrigues, menegaskan pada Rabu (22/4/2026) bahwa penangkapan Ramagem merupakan hasil dari kerja sama bilateral di bidang imigrasi. Ia menyatakan penyesalannya atas pencabutan surat kepercayaan pejabat AS.
“Dengan menyesal hari ini saya mencabut surat kepercayaan pejabat AS yang bekerja dengan kepolisian federal… sampai kita dapat mengklarifikasi secara pasti apa yang terjadi,” ujar Rodrigues.
Rodrigues menambahkan bahwa pihaknya meyakini Ivo tidak melakukan kesalahan apa pun dan tidak benar jika ia dituduh mencoba menipu Amerika Serikat.
Peristiwa ini terjadi di tengah memanasnya hubungan bilateral kedua negara. Sebelumnya, mantan Presiden AS Donald Trump diketahui sempat memberlakukan tarif terhadap Brasil sebagai respons atas persidangan Bolsonaro, yang kini tengah menjalani hukuman penjara atas tuduhan rencana kudeta. Pungutan pajak tersebut sempat dilonggarkan seiring dengan adanya perbaikan hubungan antara Trump dan Presiden Brasil yang berhaluan kiri, Luiz Inacio Lula da Silva.






