Akses.co.id — WASHINGTON DC – Amerika Serikat dilaporkan tengah menyiapkan serangkaian strategi baru jika upaya gencatan senjata dengan Iran menemui jalan buntu. Sumber-sumber yang mengetahui situasi ini mengungkapkan bahwa pejabat militer AS sedang merancang rencana untuk menargetkan infrastruktur pertahanan Iran yang berpusat di Selat Hormuz.
Rencana tersebut mencakup “penargetan dinamis” terhadap kemampuan militer Iran di sekitar Selat Hormuz, Teluk Arab bagian selatan, dan Teluk Oman. Beberapa target potensial yang dipertimbangkan termasuk kapal serang cepat berukuran kecil dan kapal penebar ranjau, serta aset-aset asimetris lainnya yang selama ini dimanfaatkan Teheran untuk mengontrol jalur perairan vital tersebut sebagai alat tawar-menawar dengan AS.
Sebelumnya, fokus serangan militer AS selama bulan pertama lebih banyak diarahkan ke wilayah daratan Iran, jauh dari Selat Hormuz. Namun, proposal baru ini mengindikasikan adanya pergeseran strategi dengan kampanye pengeboman yang lebih terkonsentrasi di sekitar jalur perairan strategis tersebut.
Laporan CNN sebelumnya menyebutkan bahwa sebagian besar rudal pertahanan pantai Iran masih dalam kondisi utuh. Selain itu, Teheran juga memiliki armada kapal kecil yang dapat berperan sebagai platform peluncuran serangan terhadap kapal-kapal, sehingga menyulitkan upaya AS untuk membuka kembali selat tersebut. Para sumber memperkirakan, serangan militer di sekitar selat kemungkinan besar tidak akan serta merta membuka kembali jalur air itu.
Menargetkan Pemimpin Militer Iran
Selain penargetan infrastruktur, opsi lain yang sedang dikembangkan oleh para perencana militer AS adalah menargetkan para pemimpin militer Iran secara individu. Opsi ini juga mencakup individu yang dianggap sebagai “penghalang” dalam rezim Iran, yang menurut pejabat AS, baru-baru ini secara aktif merusak proses negosiasi.
Salah satu nama yang disebut adalah Ahmad Vahidi, yang saat ini menjabat sebagai Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Pejabat yang enggan disebutkan namanya ini menyatakan, “Karena alasan keamanan operasional, kami tidak membahas pergerakan di masa depan atau yang bersifat hipotetis.”
Pejabat tersebut menambahkan, “Militer AS terus memberikan pilihan kepada Presiden, dan semua pilihan tetap terbuka.”
Saat ini, Angkatan Laut AS mengerahkan 19 kapal di Timur Tengah, termasuk dua kapal induk. Selain itu, terdapat tujuh kapal di Samudra Hindia, dan kedatangan USS George HW Bush menambah jumlah kapal induk AS di wilayah tersebut menjadi tiga unit.
Militer AS sendiri telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April 2026, dan hingga Kamis (23/4/2026), setidaknya 33 kapal telah dialihkan.
Ikuti Akses.co.id
