WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mendesak negara-negara Eropa untuk lebih aktif berkontribusi dalam menjaga keamanan Selat Hormuz, menegaskan bahwa konflik di jalur pelayaran vital tersebut merupakan urusan bersama, bukan hanya tanggung jawab AS. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Pentagon, Washington DC, pada Jumat (24/4/2026) pagi waktu setempat, di mana Hegseth secara tegas mengecam kurangnya dukungan dari sekutu-sekutu Eropa dalam menghadapi Iran.

Hegseth menyoroti bahwa Amerika Serikat sendiri memiliki keterlibatan minimal dalam penggunaan Selat Hormuz, berbeda dengan negara-negara Eropa yang sangat bergantung pada jalur tersebut untuk pasokan energi mereka. “Ini seharusnya bukan hanya perjuangan Amerika saja,” ujar Hegseth. “Kita hampir tidak menggunakan Selat Hormuz sebagai sebuah negara. Energi kita tidak mengalir melalui sana, padahal kita memiliki banyak energi.”

Ia melanjutkan, “Eropa dan Asia telah mendapat manfaat dari perlindungan kita selama beberapa dekade, tetapi waktu untuk memanfaatkan sumber daya tanpa berkontribusi telah berakhir.”

Pentagon Minta Eropa Turun Tangan Langsung

Lebih lanjut, Hegseth menekankan bahwa dunia bebas layak mendapatkan sekutu yang tidak hanya cakap dan setia, tetapi juga memahami prinsip kemitraan sebagai jalan dua arah. Ia mengkritik para pemimpin Eropa yang dinilai lebih banyak melakukan diskusi daripada aksi nyata.

“Kita tidak mengandalkan Eropa, tetapi mereka membutuhkan Selat Hormuz jauh lebih daripada kita, dan mungkin perlu mengurangi pembicaraan dan konferensi mewah di Eropa, dan segera naik kapal,” tegas Hegseth. Ia menambahkan, “Ini jauh lebih merupakan perjuangan mereka (Eropa) daripada perjuangan kita.”

Kritik ini bukanlah kali pertama dilontarkan oleh petinggi AS. Sebelumnya, Hegseth bersama Presiden Donald Trump telah berulang kali menyuarakan kekecewaan mereka terhadap sekutu, terutama negara-negara anggota NATO, atas minimnya bantuan yang diberikan sejak operasi militer terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu. Bulan sebelumnya, Presiden Trump juga sempat melontarkan kritik serupa, meskipun pada saat itu ia juga menyatakan bahwa AS tidak membutuhkan bantuan dari negara lain.