WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Amerika Serikat (AS) melayangkan kecaman terhadap China atas dugaan kampanye intimidasi yang menghalangi kunjungan Presiden Taiwan, Lai Ching-te, ke Eswatini. Laporan menyebutkan beberapa negara di Afrika mendapat tekanan dari Beijing untuk membatalkan izin penerbangan bagi pemimpin Taiwan tersebut.
“Kami prihatin dengan laporan bahwa beberapa negara mencabut izin penerbangan untuk mencegah Presiden Taiwan (Lai Ching-te) mengunjungi Eswatini,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS kepada AFP, seperti dikutip Reuters, Kamis (23/4/2026).
Juru bicara tersebut menambahkan, tindakan negara-negara tersebut, yang bertindak atas perintah China, merupakan campur tangan terhadap keselamatan dan martabat perjalanan rutin pejabat Taiwan. Namun, ia tidak merinci negara mana saja yang dimaksud.
Menurut Washington, langkah ini merupakan upaya lanjutan dari Beijing dalam melancarkan kampanye intimidasi terhadap Taiwan dan para pendukungnya di kancah global.
Penundaan Kunjungan ke Eswatini
Sebelumnya, Taiwan mengumumkan pada Selasa (21/4/2026) bahwa Presiden Lai terpaksa menunda perjalanannya ke Eswatini. Keputusan ini diambil setelah pihak berwenang di Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar secara mendadak dan tanpa pemberitahuan mencabut izin penerbangan lintas wilayah mereka.
Eswatini sendiri merupakan satu-satunya negara di Afrika yang masih menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan.
Sikap China dan Prinsip ‘Satu China’
China secara konsisten mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menentang segala bentuk partisipasi pulau tersebut dalam forum internasional maupun hubungan bilateral dengan negara lain. Sekretaris Jenderal Lai, Pan Men-an, sebelumnya membeberkan bahwa tekanan yang diberikan China bersifat kuat, termasuk ancaman paksaan ekonomi.
Menanggapi isu ini, Beijing pada Rabu (22/4/2026) menyatakan apresiasinya terhadap negara-negara Afrika yang memblokir izin perjalanan Lai. “Negara-negara terkait tetap mendukung prinsip satu-China, sepenuhnya sesuai dengan norma-norma dasar hubungan internasional, China menyampaikan apresiasi yang tinggi,” demikian pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri China.
Dukungan AS dan Insiden Sebelumnya
Meskipun Amerika Serikat tidak secara resmi mengakui Taiwan, Washington tetap menjadi penyedia utama dukungan keamanan bagi wilayah pulau tersebut.
Namun, catatan sebelumnya menunjukkan adanya insiden serupa. Pemerintahan Trump dilaporkan pernah menolak izin transit Lai di New York tahun lalu saat ia melakukan perjalanan resmi ke Amerika Latin. Kementerian Luar Negeri Taiwan kala itu membantah bahwa presidennya diblokir.
Perjalanan resmi luar negeri terakhir yang dilakukan Lai adalah pada November 2024, ketika ia mengunjungi sekutu Taiwan di Pasifik dan melakukan transit melalui wilayah AS di Guam.






