— TEHERAN – Amerika Serikat dilaporkan terus meningkatkan pengerahan kekuatan militernya di Timur Tengah dengan kedatangan tambahan kapal perang, pesawat tempur, dan ribuan personel. Langkah ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan serangan mendadak terhadap Iran, meskipun ada sinyal diplomasi.

Kapal induk USS George HW Bush dilaporkan telah tiba di kawasan tersebut pada Kamis (23/4/2026), membawa serta sekitar 5.000 tentara. Pasukan tambahan ini akan bergabung dengan setidaknya 24 kapal perang dan lebih dari 50.000 personel militer AS yang sudah beroperasi di wilayah itu.

Jumlah personel dan alutsista yang dikerahkan ini disebut sebagai pengerahan kekuatan terbesar AS sejak Perang Irak tahun 2003. Sebagian dari pasukan yang baru tiba dilaporkan memiliki keahlian khusus dalam operasi perebutan wilayah musuh.

Perpanjangan Gencatan Senjata dan Ketegangan

Penambahan pasukan ini terjadi di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang bersedia mengabulkan permintaan Pakistan untuk menunda serangan terhadap Iran. Tujuannya adalah untuk memberikan ruang bagi proses perdamaian atau munculnya proposal baru.

Namun, pihak Iran menegaskan sikapnya untuk tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman Amerika Serikat. Seorang penasihat senior Iran bahkan menyebut perpanjangan tersebut sebagai “tipu muslihat untuk membeli waktu bagi serangan mendadak” melalui platform X.

Meskipun ada penundaan dalam rencana serangan, Amerika Serikat dilaporkan tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Laporan dari Newsweek menyebutkan bahwa opsi penggunaan kekuatan militer masih terbuka.

Presiden Trump sendiri menyatakan bahwa pasukan AS “siap” untuk melanjutkan kampanye pengeboman besar, dan militernya “bersemangat untuk bertindak.” Kehadiran kapal induk tambahan dinilai dapat memperkuat kemampuan ofensif AS, bahkan membuka potensi eskalasi ke invasi darat.

Kekuatan Armada Kapal Induk

Setiap kapal induk, termasuk USS George HW Bush, membawa ribuan personel dan puluhan jet tempur, serta persenjataan presisi. Kapal-kapal ini dikawal oleh kapal perusak yang memiliki kemampuan meluncurkan rudal jarak jauh ke wilayah Iran dan menangkis serangan musuh.

Tiga kapal perusak yang mengawal kapal induk dapat meluncurkan hampir 300 rudal secara total. Rudal-rudal tersebut dapat digunakan untuk pertahanan maupun serangan terhadap target strategis seperti depot amunisi atau pusat komando.

Di dek kapal induk sendiri, hingga sekitar 90 jet tempur siap untuk membawa berbagai jenis senjata presisi guna melakukan serangan dari udara.

Kedatangan USS George HW Bush juga bertujuan untuk meringankan beban kapal induk USS Gerald R Ford, yang telah beroperasi lebih dari 300 hari di laut. Durasi tersebut merupakan rekor terlama sejak berakhirnya Perang Vietnam pada tahun 1975. USS Gerald R Ford sebelumnya sempat menjalani perbaikan setelah insiden kebakaran.

Sebelumnya, kapal induk USS Abraham Lincoln juga telah tiba di kawasan pada bulan Januari, semakin memperkuat armada Angkatan Laut AS di Timur Tengah.

USS George HW Bush Mengalihkan Rute Pelayaran

Dalam perjalanannya, USS George HW Bush dilaporkan menghindari Laut Merah. Kawasan ini merupakan jalur penting bagi perdagangan global dan saat ini menghadapi ancaman dari kelompok Houthi yang didukung oleh Iran di Yaman.

Dengan adanya blokade yang diterapkan di Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia—peran Laut Merah menjadi semakin krusial. Kapal-kapal perang AS yang memblokade wilayah tersebut dilaporkan dapat mengawasi kapal-kapal lain, bahkan melakukan penghentian pergerakan dengan mengirim pasukan dari helikopter, seperti yang terjadi pada dua kapal yang diduga terkait dengan Iran pekan ini.