Perbedaan harga bahan bakar minyak (BBM) diesel bersubsidi dan nonsubsidi mendorong pemilik mobil diesel modern untuk mempertimbangkan penggunaan solar subsidi atau Bio Solar. Namun, para ahli menyarankan agar hal ini dihindari karena berpotensi merusak komponen mesin.
Harga Bio Solar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina saat ini relatif terjangkau, yaitu sekitar Rp 6.800 per liter. Angka ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan harga BBM diesel nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex. PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga kedua jenis BBM tersebut per 18 April 2026. Dexlite kini dibanderol Rp 23.600 per liter, atau naik Rp 9.400 dari harga sebelumnya Rp 14.200. Sementara itu, Pertamina Dex naik menjadi Rp 23.900 per liter, juga mengalami kenaikan Rp 9.400 dari harga sebelumnya Rp 14.500.
Lonjakan harga BBM nonsubsidi ini membuat sebagian pemilik mobil diesel modern tergoda untuk beralih ke Bio Solar. Meski begitu, secara teknis, penggunaan Bio Solar pada mesin diesel modern yang dilengkapi sistem common rail tidak direkomendasikan. Penggunaan BBM dengan kualitas lebih rendah dikhawatirkan dapat mempercepat kerusakan komponen vital seperti filter dan injektor, terutama jika perawatan tidak dilakukan secara optimal.
Risiko Penggunaan Bio Solar pada Mesin Diesel Modern
Area Manager Area 3 sekaligus Branch Manager Nasmoco Slamet Riyadi, Sujaka, menjelaskan bahwa secara teori, mobil diesel modern memang tidak disarankan menggunakan Bio Solar. “Mereka lebih memilih untuk mengganti filter solar lebih sering daripada harus pakai BBM yang lebih bersih, tujuannya agar performa tetap prima,” ujar Sujaka, mengutip pemberitaan Kompas.com (11/1/2026).
Sujaka menambahkan bahwa penggunaan Bio Solar berpotensi memengaruhi status garansi kendaraan di bengkel resmi. Namun, ia mengakui bahwa pihak bengkel tetap mengedepankan pelayanan kepada konsumen. “Garansi tidak serta-merta hangus selama pemilik kendaraan rutin melakukan perawatan berkala di bengkel resmi,” katanya.
Di sisi lain, penggunaan Bio Solar dalam jangka panjang tetap memiliki risiko. Kepala Inspektor PT Inspeksi Mobil Jogja, Irvan Ardhi Nugroho, menuturkan bahwa mobil diesel yang terbiasa menggunakan Bio Solar umumnya memiliki kondisi mesin yang kurang optimal. “Penggunaan BBM tersebut memang dapat menekan biaya operasional. Namun, konsekuensinya adalah kebutuhan perawatan yang lebih intensif,” jelasnya.
Salah satu dampak langsungnya adalah filter bahan bakar yang menjadi lebih cepat kotor. Kondisi ini dapat menurunkan performa mesin jika tidak segera ditangani. Selain itu, kandungan sulfur yang tinggi dalam Bio Solar berpotensi menimbulkan endapan di dalam tangki bahan bakar. Endapan ini dapat terbawa ke saluran bahan bakar dan menyebabkan gangguan pada sistem mesin.
Kondisi Mobil Bekas dan Perawatan
Kondisi mobil diesel bekas yang sering menggunakan Bio Solar memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti. Riwayat perawatan dan kebersihan tangki bahan bakar menjadi aspek penting yang harus diperhatikan. “Kandungan sulfur dalam Bio Solar bisa mencapai 2.500 ppm,” ujar Muchlis, Pemilik Bengkel Spesialis Toyota Mitsubishi, Garasi Auto Service Sukoharjo.
Kadar sulfur yang tinggi tersebut berisiko mengotori injektor serta sistem penyaringan emisi seperti catalytic converter. Dampaknya bisa berupa penurunan performa mesin hingga potensi kerusakan komponen. “Penggunaan Bio Solar masih dapat dilakukan dalam kondisi darurat. Namun, risiko tetap harus ditanggung oleh pemilik kendaraan,” tegas Muchlis.
Muchlis menyarankan agar pengguna lebih sering mengganti filter bahan bakar jika terpaksa menggunakan BBM berkualitas rendah. Jika penggunaan BBM berkualitas baik memungkinkan penggantian filter setiap 30.000 kilometer, maka dengan Bio Solar disarankan setiap 5.000 hingga 10.000 kilometer.
Kesimpulannya, mobil diesel modern sebenarnya tetap bisa menggunakan Bio Solar. Namun, penggunaan tersebut tidak dianjurkan karena berisiko mempercepat kerusakan komponen dan menurunkan performa mesin. Pemilik kendaraan perlu mempertimbangkan biaya jangka panjang, termasuk perawatan dan potensi kerusakan, sebelum memutuskan menggunakan BBM subsidi.






